Senin, 22 Agustus 2016

KRAM!!!



Rasa-rasanya, kalau saya lahir sebagai penempa besi, saya tidak segan melebur kamu dalam api mimpi saya. Mimpi-mimpi paling panas dan liar yang akan membakar hatimu hangus jadi abu. Tapi itu egois, saya notabene tidak sanggup melihat hatimu hangus sendirian, sementara perempuan lain diluar sana mungkin sudah hampir busung lapar menunggu hatimu pecah. Kalau sudah begini saya hanya mampu "ngarep" melihat hatimu akhirnya terperangkap; entah dalam sebuah kotak sepatu, atau kandang ayam, atau jauh sampai ke Guantanamo, yang jelas saya bayangkan hatimu kebingungan sendirian dalam sebuah labirin raksasa dimana minotaur bertubuh teji siap merobeknya dengan ganas. Di tengah ketakutannya masuk perangkap, sang Minotaur yang sudah terlalu lelah melihat kamu betingkah, akhirnya puas menghancurkan cinta-cinta yang selalu kamu bagi dengan pongah (tentu saja).

Itulah mimpi yang paling indah, mimpi yang mengantarkan saya mencintai tidur lebih lama dan absolutely gagal move on dari kasur. Tapi apa mungkin semudah itu membuat kamu hilang. Lenyap dari pikiran saya seketika. Terhempas bagai butiran debu yang tidak ada artinya, terbang jauh entah kemana. Sayangnya tidak...sayangnya akar kebodohan ini sedang anteng jadi tiran, dan mata saya (yang dari segala organ yang saya punya adalah organ terlemah) dengan fokus menatap layar telepon genggam. Menghadapi dentuman demi dentuman perasaan. Nama kamu tak kunjung muncul. Layar itu tetap saja bungkam--hanya foto selfie, quote bijak tentang kekuatan melepaskan, dan sederet gambar aplikasi yang bisa saya lihat lagi dan lagi dan lagi--sampai dada saya separuh ingin meledak, separuh lagi hanya mampu menciut.

Duh gusti...dosa apa yang saya tanam ribuan tahun lalu, hingga Batara Kala rela menancapkan perasaaan begitu lama. Rasa yang melekat seperti parasit dalam jantung saya. Ratusan tahun sudah saya biarkan nafsu memburu calang, saya umbar cinta seperti serigala kelaparan, tapi lagi-lagi hanya dia yang membuat saya kenyang.

Rasa-rasanya ini baru kemarin, ketika rajaman asmara menancap tepat disini. Laki-laki bersenyum sinis yang saya kenal menyebalkan. Dia yang menyatakan takkan pernah jatuh cinta, apalagi dengan saya. Nyatanya kami bercinta, beratus-ratus malam (yang katanya) tanpa cinta. Saya menikmatinya, menikmati dipasung dalam rasa yang kamu bilang takkan pernah datang. Walau (nyatanya) rasa itu tokh tiba-tiba saja datang, di tengah malam kesiangan dan sialnya bertahan lama sekali. Sedangkan kamu, dengan santainya melenggang pergi begitu saja. Saya ditinggal dengan sayatan bernama sayang. Yang sayangnya juga membuahi kekecewaan, benih perih yang akhirnya saya aborsi diam-diam. Seperti pelaku aborsi pada umumnya, saya terperangkap dalam periode depresi. Dengan keras hati saya hadapi jutaan malam, terpaksa saya akting gagah berani padahal tubuh ini baru saja mati suri.
Lalu persis seperti lirik lagu Dessy Ratnasari, kamu datang dengan sepucuk surat undangan—rencana pernikahan paling agung abad ini. Kamu begitu bahagia, mendapatkan anak perempuan satu-satunya yang selain kaya raya juga jumawa. Ia bagai Drupadi yang lembut hati, bagai Kunti yang tidak tricky, bagai Durga yang jarang murka—ia bagai  guru yoga bertubuh langsing dengan gerakan halus melenting. Ia bagai si gadis elastis, bukan hanya fleksibel, elastis dapat beubah wujud, sementara gadis fleksibel mengikuti arus kompromi--the elastic lady yang kualifikasinya tidak pernah saya miliki.
Selamat. 
Selamat karena kamu sukses membuat saya tertawa dan meraung secara bersamaan.
Tapi sayang...berita bahagia selalu punya kawan setia; bencana.

Perempuan itu sadar akan kesalahannya, kesalahannya mencintai laki-laki yang tidak sesuai standard keluarga--keluarganya tidak membutuhkan Ksatria tanpa kuda, mereka lebih butuh Raja bermahkota. Kamu ditinggal nelangsa, kamu yang biasanya pongah kini pulang ke tempat dimana kamu tahu selalu ada empunya rumah yang akan dengan ramah menyambut tamu. Kamu ketuk lagi, kali ini dengan salam yang super-lembut dan mengharu biru. Kamu bilang kali ini kamu benar-benar membawa buket cinta yang setia; oh saya salah, ternyata bunga itu tidak hanya satu buket, kamu punya satu ember penuh bunga krisan--my favorite. Apalah daya saya melihat ember penuh bunga yang dibawa oleh pria luar biasa. Rencana saya untuk menjadi patung yang dingin atau setidaknya menyungging senyum angkuh ala Monalisa hanya tinggal rencana. Nyatanya saya orang pertama yang lari ke pelukan kamu dan berkata, "aku kangen banget sama kamu". Saya yang niatnya jumawa, kini berubah menjadi gadis remaja dengan campuran rasa kaget, senang, dan terlalu lincah (kalian bisa mengindentifikasikan perasaan macam ini jika kita spontan berteriak "cihuy" walau dalam hati saja). Meski demikian...saya masih berdiri menghalangi pintu. Kamu berkeras untuk masuk. Saya goyah diantara kesenangan dan ketakutan. Tapi tangan kamu terlalu cekatan, setelah satu rengkuhan dan beberapa kali lumatan. Saya menyerah. Kamu masuk lagi. Iya kamu...si fasis sejati yang sudah pasti habis-habisan mencabik-cabik saya (lagi).
Untuk kemudian kamu pergi (lagi).

Kini, tolong cobalah duduk tenang di hadapan saya. Tanpa perlawanan cobalah cintai hati ini dengan ikhlas. Tujuh tahun sudah saya simpan rapat-rapat kisah kotor diantara kita—pengkhianatan, kebohongan, kemunafikan, denial. Sampai saya bosan menyebut rasa ini dengan jengah. Ini cinta yang sewajarnya, cinta yang saya berikan karena hati begitu tuli untuk mendengar kekejian hati saya dalam mencintai kamu. Ini rasa yang sesungguhnya, rasa yang saya nikmati dalam buta, rasa yang meraba-raba dimana balasannya berada. Jangan lagi kamu debat apa yang terjadi dalam pikiran saya. Sudah sekian lama saya berperang sendirian, sekian lama berperang dengan lawan yang tidak seimbang. Jadi biarkanlah kali ini saja saya menang, saya sebagai pihak yang membawa panji-panji kesuksesan. Tidakkah kamu bosan selalu membuat saya sebagai pecundang?

Ah...kamu itu!

Kalau boleh saya rangkaian kata-kata indah untuk sejenak mengantarkan kamu rebah, begini bunyinya kira-kira;
”Buat saya, kita adalah kepingan logam, meskipun dalam satu lingkaran; selalu sulit berhadapan. Buat saya, kamu selaksa bayangan, yang selalu ada tapi tetap invisible. Buat saya, kamu manusia laknat yang membuang hati saya (hati yang sempurna ini) begitu saja, padahal saya sudah rela cinta ini diberikan secara cuma-cuma, tanpa biaya tambahan, tanpa pajak, apalagi retribusi liar. Buat saya, kamu bajingan”.

Tapi toh itu cuma ada dalam pikiran, lidah saya kelu, hati saya sudah lumer sejak ember penuh bunga itu saya simpan di ruang tamu. Saya tetap saja si pandir yang menikmati kekalahan dan rasa sayang yang berlebihan.

Dan kamu;
”makasih udah ngertiin aku ya sayang!!!”
selalu begitu...



August 2009 - August 2016...
after a while and a lot of things just happen in a blink

Tidak ada komentar:

Posting Komentar