Impiannya lembut.
Cita-citanya halus. Cukup sedikit usaha dan perbanyaklah komposisi imajinasi
untuk bebas mengarungi khayalan. Impian yang halus. Impian yang membuat saya
terpana, dan kembali berdecak kagum untuk manusia yang satu ini...tapi ehm
tidakkah Ia lebih menyerupai peri nakal yang gemar bergelantungan di batang
pohon mangga, atau lebih persis kurcaci pengumpul logam emas. Huss (bayangan
itu lenyap), ini kan Indonesia, mereka yang gaib tidak berpakaian rapih
melainkan bercawat, mereka yang tak kasat gak
punya waktu jadi fashionista. (hihi)
saya terkikik sendirian, membayangngkan sosok Nusa sebagai peri nakal. Sosok
yang selama ini saya kenal jumawa sekaligus lemah gemulai, mungkinkah ia
menjelma peri lucu bersayap kupu-kupu dengan topi kuncup, atau bahkan serupa
pria katai menggemaskan penjaga tidur sang puteri. Ah Nusa yang gagah itu
pantasnya jadi Samson saja, sedang saya menjelma Delilah, indahnya...
Namun dia begitu
lembut, begitu penurut, begitu mudah manut.
Sebagai Delilah yang terpaksa licik, saya ini gak punya bakat pura-pura licik. Si Samsons berambut kelimis itu
habis saya perangkap. Mulanya saya jerat dia seadanya, lalu saya tambah bumbu
sentuhan didalamnya, untuk kemudian ia menggeliat hangat karenanya, (hehe) pria
penurut memang kesempurnaan dunia.
Si Samson bernama
Nusantara itu kini tergeletak di samping saya, habis energi karena olah raga
malam baru saja kami rampungkan. Kamar pengap ini masih meruapkan aroma
persetubuhan kami. Segera saya raih pematik dan menyulut sebatang rokok putih, low tar and nicotine...ah betapa saya
mengagumi keunggulan mereka yang satu ini (paling tidak racun itu dalam kadar
rendah!). Asap rokok mengepul di seisi ruangan, kepulan racun ditambah
wewangian persetubuhan. Dunia saya memang dunia yang sungguh bagai di
surga—surga dunia.
Nusa masih
terbaring pulas disebelah saya. Harum berahinya masih membuat saya sedikit
bergairah. Dia memang pantas ditaklukkan, kuda jantan yang lihai, duh ingatan
saya pun menggelinjang. Teringat permainan kami yang baru saja usai. Seperti
biasa, tubuh semampainya saya nikmati...dada bidang yang penuh segudang
harapan, pinggul kecil bagai kuda teji, dan jangan lupa ukuran si kecil dibawah
sana yang samasekali tidak kecil. Kenikmatan macam begini takkan rela saya
bagi-bagi.
Jam kecil di meja
belajar saya menunjukan angka 03.50 am. Ini sudah bukan lagi malam, hari hampir
pagi sekarang, sayangnya mata saya belum juga berminat untuk terpejam—mungkin
setengah jam lagi saya tepar.
Nusa masih
menggelepar tak berdaya disamping saya, tangan kanannya merengkuh pinggang,
sambil sedikit bergumam mempertanyakan mengapa badan saya tak kunjung terbaring.
“sebentar lagi
jam lima, hon...aku gak tidur aja sekalian”, jawab saya
seraya mengecup cuping hidungnya yang bangir.
“hmmm...”,
balasnya sambil tersenyum.
Sebentar lagi
memang jam 5 subuh, waktu matahari dengan gagahnya kembali datang, saat pagi
membuat manusia balik menantang. Saya selalu menyukai moment pergantian malam
menjadi pagi, ibarat menyalakan lampu kamar mandi. Sedetik yang lalu udara
lembap menyelimuti, detik berikutnya si cerah datang selaksa arti, ah saya
kadang kelewat puitis kalau sudah puas.
Sebentar lagi si
subuh datang lagi, Nusantara akhirnya pergi lagi. Pria ini laksana Count Dracula di hidup saya. Ia akan
datang dan menghabiskan malam-malam dengan kenikmatan tak terhingga dalam ruang
sempit ini, esok paginya...tepat sebelum jarum jam menunjukan angka 6, ia harus
segera hilang. Hilang dari segala keindahan ini, hilang dari semua kegembiraan
ini, hilang dan melenyapkan diri....hufh!. Tapi saya tidak pernah merajuknya
untuk tetap tinggal sampai siang. Saya belum mau kehilangan penghisap darah
pribadi. Saya masih mau dihisap sampai batas waktu yang belum mau
ditentukan...hoaaaaaa saya masih mau nikmat, lepas, nikmat, bebas, nikmat...nikmat!!!
“jam brapa
sekarang?”, suara beratnya memecah konsentrasi ingatan saya.
“masih jam 4”,
jawab saya singkat.
“beneran gak
tidur?”.
“gak”.
Dia hadir di
hidup saya 2 tahun yang lalu. Saat itu baru saja saya hijrah ke kota besar ini,
kota yang akhirnya membesarkan hati saya. Dengan senyumnya yang tulus
kelewatan, dia datang tiba-tiba lalu menjelma Dracula, ah masih Nusa yang sama dengan 2 tahun lalu....masih
seorang Nusantara yang bertubuh panjang dengan pinggang kecil menawan serta
bahu yang lebar menantang.
Dia duduk disana sendirian, besar tubuhnya membuat pria
itu berbeda. Malam ini dia pekerjaan yang harus saya tuntaskan. Nusantara
Tjakra…begitu ia dikenal. Di daerah pusat Jakarta nama Tjakra bukan hanya nama
belakang biasa. Keluarga itu turun temurun melindungi jantung kota ini. Dan
saya yang didaulat terbaik mendapat kehormatan menemani tamu seperti Nusantara.
Saya mendekat—lebih dekat untuk dapat mendengarnya bicara, hentakan musik tak
memungkinkan kami bicara tanpa sedikit menjerit. Ia memperkenalkan namanya,
nama yang sudah tidak asing lagi buat saya…lalu tersenyum. Senyum menawan yang
membuat saya terlena. Ia yang seharusnya saya sembah bagai Raja, kini saya
daulat bagai Dewa Cinta.
Saya jatuh cinta, seketika itu juga.
Nusa beranjak dan
meninggalkan saya sendirian. Dari belakang, tubuhnya yang panjang kembali
menggelitik berahi saya. Aih...dia itu begitu seksi, bagaimana mungkin ada
makhluk hidup dengan pahatan sesempurna itu. Kuda Jantanku yang
nakal...melenggang dengan bayanganya yang meninggalkan kemayang...saya
kemayangan!
Ingin rasanya
saya repeat berkali-kali sampai
gairah ini benar-benar surut, sampai tak ada lagi klimaks yang kami raih—sampai
di titik kulminasi. Namun waktu membuat saya harus patuh. Waktu hanya
mengijinkan kami bersenang-senang ketika hari berubah gelap. Kami dilarang
bercinta di bawah teriknya matahari. Kami hanya pasangan yang direstui
bintang-bintang dan bulan yang menjaga kesenangan itu sambil tersenyum
mengantuk. Lalu sebuah suara menyeret saya kembali pulang, sudah pukul 05.30
sekarang. Kami pun
memulai
hari ini, hari dimana kenyataan menyapa pagi yang berubah siang lalu sore
sampai malam kembali datang.
***
*07’07’09
Ide datang setelah men-knock out kecoak nakal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar