Senin, 15 Agustus 2016

SAMSON DAN DELILAH



Impiannya lembut. Cita-citanya halus. Cukup sedikit usaha dan perbanyaklah komposisi imajinasi untuk bebas mengarungi khayalan. Impian yang halus. Impian yang membuat saya terpana, dan kembali berdecak kagum untuk manusia yang satu ini...tapi ehm tidakkah Ia lebih menyerupai peri nakal yang gemar bergelantungan di batang pohon mangga, atau lebih persis kurcaci pengumpul logam emas. Huss (bayangan itu lenyap), ini kan Indonesia, mereka yang gaib tidak berpakaian rapih melainkan bercawat, mereka yang tak kasat gak punya waktu jadi fashionista. (hihi) saya terkikik sendirian, membayangngkan sosok Nusa sebagai peri nakal. Sosok yang selama ini saya kenal jumawa sekaligus lemah gemulai, mungkinkah ia menjelma peri lucu bersayap kupu-kupu dengan topi kuncup, atau bahkan serupa pria katai menggemaskan penjaga tidur sang puteri. Ah Nusa yang gagah itu pantasnya jadi Samson saja, sedang saya menjelma Delilah, indahnya...
Namun dia begitu lembut, begitu penurut, begitu mudah manut. Sebagai Delilah yang terpaksa licik, saya ini gak punya bakat pura-pura licik. Si Samsons berambut kelimis itu habis saya perangkap. Mulanya saya jerat dia seadanya, lalu saya tambah bumbu sentuhan didalamnya, untuk kemudian ia menggeliat hangat karenanya, (hehe) pria penurut memang kesempurnaan dunia.

Si Samson bernama Nusantara itu kini tergeletak di samping saya, habis energi karena olah raga malam baru saja kami rampungkan. Kamar pengap ini masih meruapkan aroma persetubuhan kami. Segera saya raih pematik dan menyulut sebatang rokok putih, low tar and nicotine...ah betapa saya mengagumi keunggulan mereka yang satu ini (paling tidak racun itu dalam kadar rendah!). Asap rokok mengepul di seisi ruangan, kepulan racun ditambah wewangian persetubuhan. Dunia saya memang dunia yang sungguh bagai di surga—surga dunia.
Nusa masih terbaring pulas disebelah saya. Harum berahinya masih membuat saya sedikit bergairah. Dia memang pantas ditaklukkan, kuda jantan yang lihai, duh ingatan saya pun menggelinjang. Teringat permainan kami yang baru saja usai. Seperti biasa, tubuh semampainya saya nikmati...dada bidang yang penuh segudang harapan, pinggul kecil bagai kuda teji, dan jangan lupa ukuran si kecil dibawah sana yang samasekali tidak kecil. Kenikmatan macam begini takkan rela saya bagi-bagi.

Jam kecil di meja belajar saya menunjukan angka 03.50 am. Ini sudah bukan lagi malam, hari hampir pagi sekarang, sayangnya mata saya belum juga berminat untuk terpejam—mungkin setengah jam lagi saya tepar.
Nusa masih menggelepar tak berdaya disamping saya, tangan kanannya merengkuh pinggang, sambil sedikit bergumam mempertanyakan mengapa badan saya tak kunjung terbaring.
“sebentar lagi jam lima, hon...aku gak tidur aja sekalian”, jawab saya seraya mengecup cuping hidungnya yang bangir.
“hmmm...”, balasnya sambil tersenyum.
Sebentar lagi memang jam 5 subuh, waktu matahari dengan gagahnya kembali datang, saat pagi membuat manusia balik menantang. Saya selalu menyukai moment pergantian malam menjadi pagi, ibarat menyalakan lampu kamar mandi. Sedetik yang lalu udara lembap menyelimuti, detik berikutnya si cerah datang selaksa arti, ah saya kadang kelewat puitis kalau sudah puas.
Sebentar lagi si subuh datang lagi, Nusantara akhirnya pergi lagi. Pria ini laksana Count Dracula di hidup saya. Ia akan datang dan menghabiskan malam-malam dengan kenikmatan tak terhingga dalam ruang sempit ini, esok paginya...tepat sebelum jarum jam menunjukan angka 6, ia harus segera hilang. Hilang dari segala keindahan ini, hilang dari semua kegembiraan ini, hilang dan melenyapkan diri....hufh!. Tapi saya tidak pernah merajuknya untuk tetap tinggal sampai siang. Saya belum mau kehilangan penghisap darah pribadi. Saya masih mau dihisap sampai batas waktu yang belum mau ditentukan...hoaaaaaa saya masih mau nikmat, lepas, nikmat, bebas, nikmat...nikmat!!!

“jam brapa sekarang?”, suara beratnya memecah konsentrasi ingatan saya.
“masih jam 4”, jawab saya singkat.
“beneran gak tidur?”.
“gak”.

Dia hadir di hidup saya 2 tahun yang lalu. Saat itu baru saja saya hijrah ke kota besar ini, kota yang akhirnya membesarkan hati saya. Dengan senyumnya yang tulus kelewatan, dia datang tiba-tiba lalu menjelma Dracula, ah masih Nusa yang sama dengan 2 tahun lalu....masih seorang Nusantara yang bertubuh panjang dengan pinggang kecil menawan serta bahu yang lebar menantang.

Dia duduk disana sendirian, besar tubuhnya membuat pria itu berbeda. Malam ini dia pekerjaan yang harus saya tuntaskan. Nusantara Tjakra…begitu ia dikenal. Di daerah pusat Jakarta nama Tjakra bukan hanya nama belakang biasa. Keluarga itu turun temurun melindungi jantung kota ini. Dan saya yang didaulat terbaik mendapat kehormatan menemani tamu seperti Nusantara. Saya mendekat—lebih dekat untuk dapat mendengarnya bicara, hentakan musik tak memungkinkan kami bicara tanpa sedikit menjerit. Ia memperkenalkan namanya, nama yang sudah tidak asing lagi buat saya…lalu tersenyum. Senyum menawan yang membuat saya terlena. Ia yang seharusnya saya sembah bagai Raja, kini saya daulat bagai Dewa Cinta.
Saya jatuh cinta, seketika itu juga.

Nusa beranjak dan meninggalkan saya sendirian. Dari belakang, tubuhnya yang panjang kembali menggelitik berahi saya. Aih...dia itu begitu seksi, bagaimana mungkin ada makhluk hidup dengan pahatan sesempurna itu. Kuda Jantanku yang nakal...melenggang dengan bayanganya yang meninggalkan kemayang...saya kemayangan!
Ingin rasanya saya repeat berkali-kali sampai gairah ini benar-benar surut, sampai tak ada lagi klimaks yang kami raih—sampai di titik kulminasi. Namun waktu membuat saya harus patuh. Waktu hanya mengijinkan kami bersenang-senang ketika hari berubah gelap. Kami dilarang bercinta di bawah teriknya matahari. Kami hanya pasangan yang direstui bintang-bintang dan bulan yang menjaga kesenangan itu sambil tersenyum mengantuk. Lalu sebuah suara menyeret saya kembali pulang, sudah pukul 05.30 sekarang. Kami pun memulai hari ini, hari dimana kenyataan menyapa pagi yang berubah siang lalu sore sampai malam kembali datang.
***



*07’07’09
Ide datang setelah men-knock out kecoak nakal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar