Saya ingat
sekali dulu pernah bertemu dengan dia. Dulu sekali, tapi entah kapan, tapi saya
yakin bahwa saya memang pernah bertemu dengan sosok itu. Saya masih ingat
detail tubuhnya, saya bahkan masih ingat harum tubuhnya. Dan kini ketika saya
berpapasan dengannya dalam sebuah pertemuan tak sengaja, sayapun kembali
melontarkan tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu sekali pernah membuatnya
berdesir, terkulai, terlena, terajam panah asmara. Tatapan mata yang sebelumnya
saya mintakan pada Eros untuk
menghadiahkannya pada suatu petang di Kalibesar. Ya itu dulu...dulu sekali,
tapi saya masih menyimpannya, menyimpannya untuk saat-saat seperti ini. Saat
dimana saya kembali dipertemukan oleh nasib dengannya. Saat dimana saya kembali
dibayang-bayangi oleh kecantikannnya. Saat ini...
***
Saat ini dia
kembali hadir dalam hidup saya dengan sempurna. Dia berjalan dengan anggun,
dengan pakaian kantor yang elegan, serta sepatu berhak tinggi yang membuat
tungkai jenjangnya semakin terlihat menawan. Tubuhnya masih semampai. Matanya
masih menyiratkan keinginan yang tertahan dengan malu-malu, dan aih aih
bibirnya...bibir itu masih gempal dan menantang untuk segera dilumat. Serta
jangan biarkan saya khilaf dengan
tidak menyebutkan betapa ramping pinggangnya membuat saya berteriak kegirangan
dalam hati.
Sudah sekian
lama saya menunggu saat ini. Pertemuan yang kembali terulang di Kalibesar. Saat
dimana saya akan kembali terobsesi. Saya hampir lupa sudah berapa lama. Entah
dalam hitungan jari, entah ratusan hari, atau bahkan puluhan tahun, yang jelas
saya setia menanti...
Saya setia
menanti kedatangannya. Kedatangannya kembali ke dunia ini—dunia saya sendiri.
Seperti separuh umat bumi yang menyakini kembalinya sang Putra Allah turun ke bumi.
Maka saya ikrarkan jiwa untuk meyakini kedatangannya yang juga (pasti) kembali
kedalam pusara hidup saya. Terkadang memang saya letih untuk berkeyakinan.
Karena keyakinan memerlukan banyak sekali kepingan harap yang sulit sekali
diproduksi. Tapi iming-iming hati akan kebahagiaan dan euphoria akan kedatangannya, membuat otak saya berhenti mengeluh.
Meski seringpula hati saya mangkel
dengan penantian tak berujung pangkal ini. Tokh
hati adalah organ tersabar yang saya miliki. Saya pun kembali mencintainya.
Cinta yang sudah ratusan kali jatuh di hati saya yang sabar ini. Cinta
untuknya...
Cinta untuknya
saya berikan pertama kali di pertemuan kami yang pertama. Saya ingat jelas saat
itu. Dia berjalan dengan lemah gemulai dalam balutan pakaian yang aduhai
membuat hati tuan segera bertanya-tanya siapa nama gerangan. Senyumnya
malu-malu, bibirnya yang tebal dipulas gincu merah, rambutnya yang panjang
dibiarkan tergerai. Dia berjalan keluar dari toko obat dengan sedikit berjalan
cepat, mungkin sesuatu membuatnya harus buru-buru sampai dirumah, mungkin juga
salah satu anggota keluarganya membutuhkan ramuan obat yang ia beli barusan. Tidaklah
penting perihal kepentingan nona manis itu, yang penting detik pertama saya
melihatnya, detik itu pula saya berikan hati saya sepenuhnya pada nona tak
bernama...
Nona tak bernama
itu ternyata memiliki nama yang indah... Giok Hwan namanya, anak kedua dari babah penjual tembakau di daerah Glodok.
Cerita lengkap mengenai Giok Hwan saya dapatkan dari kacung toko obat cina yang
tempo hari ia kunjungi. Kacung itu bilang, Giok Hwan rutin 2 minggu sekali
datang ke toko majikannya untuk menebus obat, obat yang dipakai Mami-nya untuk bertahan hidup. Kasihan
nona manis itu, masih muda sudah harus menghadapi terik siang demi ibunya yang
tak kalah menderita, andai saya dapat membantunya mengantar obat itu ke
Glodok... saya rela sekali, selain saya dapat bertemu dengan pujaan hati, saya
pun dapat mengurangi beban hidup kekasih tercinta.
Kekasih tercinta
yang akhirnya jatuh ke pelukan. Betapa girang hati dibuatnya, tak percuma saya
lantunkan do’a diam-diam, berharap Dewi Asmara segera menitah sang putra untuk
segera menancapkan panah cinta tepat di dadanya. Di dadanya yang menyembulkan
buah ajaib kesayangan Tuhan. Setelah ratusan kali saya layangkan jurus
pandangan mata, pada suatu malam nona Giok Hwan menyatakan kesediaanya untuk
bersanding bersama. Kebahagiaan saya tak terlukiskan, saya ajak Giok Hwan
menikmati kota naik becak, saya
manjakan dia dengan es Italia Ragusa bersaudara. Begitu bungah hati saya
dibuatnya, melayang lepas ke udara bebas. Di tengah sengatan terik panas
Jakarta pada Juni 1965, saya mantapkan hati dalam sebuah keberuntungan. Keberuntungan yang terpatri kuat dalam
ingatan akan kebahagiaan saya yang tidak bertahan lama...
Tidak bertahan
lama seperti yang saya impikan sebelumnya. Sebelumnya sudah saya makhtubkan
dalam hati untuk segera meminangnya menjadi pendamping. Usia saya sudah cukup
mapan saat itu, lagipula usaha saya pun berkembang dengan pesat, tak ada alasan
untuk menghalangi saya membangun mahligai rumah tangga bersama kekasih pujaan.
Lagipula setiap kali melihat Giok Hwan, sisi kelaki-lakian saya mensyaratkan
berahi tak tertahan, sementara di sisi lain saya ingin menjadi lelaki sejati
yang mereguknya setelah ia berhasil saya peristri. Duh nona Giok Hwan, kenapa mereka tega memisahkan cinta kita yang
tulus dan tak bercela ini. Saya tidak pernah tahu kenapa toko yang dibangun
dinasti keluarga saya dengan jujur harus pula dibakar si jago merah. Mereka
menyeret saya keluar dari toko, memukuli kepala saya, memukuli kepala
orang-orang di sekeliling saya. Padahal saya tidak pernah berbuat jahat pada mereka
yang memukuli saya, saya bahkan tidak membenci mereka, saya tidak mengenal
mereka. Apa salah Papa dan Mama saya, atau bahkan apa salah saya sendiri. Kami
hanya warga keturunan biasa seperti pula keluarga tionghoa yang lain. Saya
bingung Giok Hwan, saya bingung kenapa semuanya terjadi begitu cepat, yang saya
ingat hanya selebaran bergambar palu dan arit yang dibakar bersamaan dengan
hangusnya toko kami. Sungguh hati saya tidak bermaksud mendustaimu, atau bahkan
mengingkari janji suci kita. Saya masih akan selalu menanti nona, menantikan
bunyi letusan petasan berkali-kali tanda kita melangkahkan kaki ke kehidupan
baru...
Kehidupan baru yang
akhirnya terpaksa saya jalani tanpa kamu. Setelah peristiwa nahas itu, saya
hanya berharap seekor merpati dapat menyampaikan khabar kepergian saya dengan
lembut. Supaya kamu tidak terlalu kalut menghadapi kehilangan saya. Maafkan
saya Giok Hwan, bukan niat hati tuan meninggalkan nona sendirian. Jikalau tuan
mampu, ingin tuan mengajak nona serta, sayang kini tuan berada jauh dari dunia.
Saya masih
menyesali perbuatan saya. Saya menyesali kenapa tidak langsung meminangnya
ketika ada kesempatan, kenapa harus terencana dan disusun matang. Namun saya
percaya, akan ada kehidupan selanjutnya dimana saya dapat kembali bersua dengan
nona pujaan hati. Nona saya yang mungkin nanti menjelma menjadi sesuatu yang
tak mungkin. Tapi mungkin akan segera saya kenali sosoknya sebagai Giok Hwan...
***
Giok Hwan, itu
dia Giok Hwan...saya tidak mungkin salah, dia adalah Giok Hwan yang sama dengan
Giok Hwan yang dulu hendak saya pinang. Saya yang membantunya kembali hadir di alam fana. Akhirnya do’a saya
terkabulkan sang Maha Kuasa. Giok Hwan lahir dengan sempurna, dia lahir seperti
seharusnya, tidak ada satu pun cacat saya temukan. Kali ini saya tidak boleh
terlambat lagi, namun tidak mungkin meminangnya saat ini, dia baru saja
menjelma bayi manusia berusia 5 menit. Saya tetap harus menantinya, menantinya
tumbuh besar menjadi manusia dewasa. Walau beda usia kami kini terpaut 25
tahun, dan saya sudah beranak dua, sudah saya bulatkan tekad untuk menikahinya
kelak. Giok Hwan yang malang, takkan kubiarkan kamu kembali sendirian.
“bu bidan, anak saya sehat?”, tanya ibu
Giok Hwan yang mukanya pucat.
“sehat”, jawab saya yang masih mengagumi
kekasih saya itu.
Tak lama setelah
jawaban saya ucapkan, perempuan yang mengantarkan kembali Giok Hwan ke pangkuan
saya, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Saya tahu ini pertanda jodoh bagi
kami. Perempuan itu datang sendirian ke rumah saya, kandungannya yang besar
sudah membuat ketubannya pecah, dia sudah pembukaan 3 waktu itu. Saya tanpa
basa-basi menolongnya. Saya mengenal perempuan itu sebagai buruh cuci yang tinggal berhimpit di kampung
belakang. Suaminya baru saja meninggal akibat tabrak lari, sedang anak-anaknya
yang lain...entahlah, mungkin sudah dititipkan ke sanak famili mereka. Yang jelas dan saya tahu pasti, kini Giok Hwan tidak
akan jauh-jauh dari saya lagi. (Seharusnya) dia tetap disini...
(Seharusnya) dia
tetap disini. Tapi tidak...Giok Hwan, kamu sepertinya masih marah karena
kepergian saya dulu. Dia kini pergi mendahului saya, saya tidak tahu persis apa
penyebabnya. Apakah kemarahanmu yang teramat sangat dibawa ke kehidupannya yang
baru, ataukah karena gizi yang kurang diberikan si buruh cuci itu semasa hamil.
Apapun alasannya, kini Giok Hwan yang cantik harus diambil Tuhan pada usianya
yang baru saja 5 bulan. Saya kembali menyesali keterlambatan saya. Seharusnya
saya nikahi saja dia ketika pertama kali mendengar jerit tangisnya, tak perlu
berlama-lama menunggunya hingga tumbuh menjadi pemuda matang.
Duh Giok
Hwan...kenapa, kenapakah sayang? kembali lagi nasib menanggalkan cinta kita di
tengah jalan. Malang benar nasib ini dibuat Tuhan. Hendakkah kemalangan ini
menjadi suatu kemujuran? Dan saya akan kembali berjumpa dengan nona pujaan hati
saya...
Nona pujaan hati
saya kini bersemayam dalam tubuh rupawan bernama Gertrude. Ia tinggal di rumah besar
berpagar emas. Giok Hwan... tahukah kamu bahwa kecantikanmu yang abadi membawa
saya pada petualangan cinta tak berdimensi. Begitu dalam rasa cinta yang saya
miliki hingga tak hiraukan nasihat empunya waktu. Sepertinya kamu tak merasa
serupa . Kamu hanya memandang saya dari kejauhan untuk kemudian melengos—menjauh
sejauh mungkin. Tapi saya tetap berbahagia nona, paling tidak Yang Kuasa memberikan
kenikmatan dunia dengan pertemuan kembali ini. Giok Hwan yang manis... sekarang
walaupun amarahmu tak juga kunjung reda, saya harap kamu masih mengenali cinta
tulus suci milik hati nan sabar ini. Ah
nona...maafkanlah keterbatasan tuan. Saya sungguh bodoh hingga belum juga mampu
kembali mempersuntingmu. Apalah saya ini, sedang kau hidup dalam gelimang
kemewahan, saya terpaksa hidup dari belas kasihan manusia-manusia sekitar.
Kalaulah nona sudi berhenti ngambek
dan bersanding dengan saya, majikan nona belum tentu mengijinkan anjing betina Pomeranian-nya (begitu saya dengar
manusia-manusia itu menyebut jenismu) kawin dengan asu buduk penuh kudis macam saya.
Maafkanlah saya nona, maafkan karena berbagai Kamma yang saya tumpuk masih melahirkan Dukha dalam semesta kita yang tak terpetakan.
***
Saya ingat
sekali dulu pernah bertemu dengan dia. Dulu sekali, tapi entah kapan, tapi saya
yakin bahwa saya memang pernah bertemu dengan sosok itu. Saya masih ingat
detail tubuhnya, saya bahkan masih ingat harum tubuhnya. Dan kini ketika saya
kembali berpapasan dengannya dalam sebuah pertemuan tak sengaja, sayapun
kembali melontarkan tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu sekali pernah
membuatnya berdesir, terkulai, terlena, terajam panah asmara. Tatapan mata yang
sebelumnya saya mintakan pada Eros
untuk menghadiahkannya pada suatu petang di Kalibesar. Ya itu dulu...dulu
sekali, tapi saya masih menyimpannya, menyimpannya untuk saat-saat seperti ini.
Saat dimana saya kembali dipertemukan oleh nasib dengannya. Saat dimana saya
kembali dibayang-bayangi oleh kecantikannnya. Saat ini...
Saat ini saya
mantapkan hati untuk segera memintamu menjadi istri, ibu dari anak-anak saya
kelak. Kamulah Giok Hwan yang ratusan tahun sudah saya nanti, dalam ribuan kali
kehidupan saya mencintai sosokmu yang kelewat sempurna. Kini Giok Hwan...kini
sudikah kamu saya peristri, untuk memenuhi janji yang belum sempat-sempat saya
tepati. Saya tidak ingin terlambat Giok Hwan, saya tidak ingin memenuhi
kewajiban untuk kembali menanti. Nona... bersediakah kamu menikah dan menjadi
pasangan hidup saya yang abadi, bersediakah?!?
“heh mampus lu, dasar kecoak busuk!”.
“udah mati belom?”.
“udah, aku injek pake high heels”.
Ah Giok Hwan,
nampaknya kamu memang masih marah...
*19’08’08
aroma deja-vu kota tua dan tegangan
skripsi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar