Suatu hari saya berpikir,
bagaimana kalau saya tidak perlu punya mulut. Bukan bisu tapi memang tak
bermulut. Kalau anda pernah baca salah satu cerita pendek seniman gaek Putu
Wijaya, anda pasti nggak asing lagi
dengan khayalan manusia tanpa mulut ini.
Tapi seperti kebanyakan
manusia, saya pun kembali berpikir…memang ada enaknya kalau mulut ini di delete saja dari wajah kita, paling
tidak menghilangnya salah satu bagian wajah ini bisa mereduksi dosa. Loh jangan
ndak percaya kalau mulut itu berlumur
dosa, tengok saja pagi hari di kompleks perumahan. Bukan pemandangan luar biasa
lagi kalau banyak ibu rumah tangga beserta para pembantu dipandu tukang sayur
tahan berdiri berjam-jam mengitari gerobak sambil sesekali ketawa-ketiwi,
produk televisi tidak semenarik cerita tentang tetangga yang banting panci di
pagi hari. Atau untuk skala yang lebih besar, kita bisa lihat di layar kaca,
betapa televisi saling berlomba untuk memberikan kekuatan ibu-ibu supaya betah ngerumpi. Terlepas dari itu adalah fakta
yang terungkap, buat saya mulut yang usil tetap saja berbuah dosa….Cuma kalau
sampai-sampai mulut ini hilang selamanya dari wajah saya, lalu bagaimana nasib
bibir saya yang indah, gigi-geligi saya yang dipoles putih suci, atau si lidah
yang bukan hanya pandai bersilat pun juga berakrobat. Wah saya belum mau
kehilangan kenikmatan duniawi sekarang. Selain daripada itu saya tokh tiba-tiba
berpikir tidak ingin punya mulut ini lantaran letih memulas politic smile,
poker face, atau apapun itu namanya dengan rekan sejawat yang bahkan tidak saya
hafal namanya. Tapi senyum itu dibutuhkan, setidaknya ada satu laki-laki yang
butuh senyuman saya setiap hari, yang perlu senyuman saya untuk menguatkan dia
pergi belajar atau sekedar mengantarkan dia ke mimpinya yang indah.
Jadi ah…saya mau berpikir yang
lain saja!
Suatu hari setelahnya saya
berpikir lagi, bagaimana kalau saya sekarang tidak perlu punya hidung. Bukannya
sengaja dihilangkan karena penyakit pernapasan akut seperti sinusitis dan kroni-kroninya,
tapi memang tak berhidung (bukan juga pesek karena tulang hidungnya cekung loh
ya!)…Tapi benar-benar nggak punya hidung.
Kalau sampai pikiran saya ini
jadi nyata, saya sudah bayangkan bagaimana menyenangkannya. Saya akan terbebas
dari derita sinus pengganggu ini, saya juga nggak perlu menutup hidung ketika
truk sampah tanpa sengaja berlalu, atau yang lebih menyenangkan lagi…saya nggak
perlu terobsesi punya hidung mancung bangir macam ras Arya itu….oh indahnya!!!
Tapi lalu…selintas bayangan
saya berubah ngeri, terbayang bagaimana menyeramkannya kalau wajah saya begitu
rata tanpa hidung yang cuma secuil ini. Betapa tidak menyenangkannya hidup saya
tanpa aroma-aroma harum alam. Atau
begitu tidak sempurnanya hari-hari saya tanpa pertukaran nafas yang
terengah-engah….wah!
Kalau sudah begini saya tarik
lagi keinginan untuk menghilangkan hidung. Saya masih ingin punya hidung, walau
hidung ini bentuknya aneh karena terlalu mungil. Saya masih cinta dengan hidung
ini, walau sinusitis sungguh mengganggu kegiatan saya sehari-hari. Saya masih pingin punya hidung, walau hidung ini
selalu gatal di waktu yang tidak tepat… Bagaimanapun juga ini hidung saya kan!
Suatu hari selanjutnya setelah
beberapa hari lepas, saya kembali berpikir. Kali ini katanya kelewat ekstrem
karena saya tiba-tiba nggak kepingin punya mata. Padahal menurut desas-desus
diluaran, dari keseluruhan wajah saya, mata adalah bagian yang paling enak
dilihat. Yah paling tidak nilai jual saya bisa naik karena pengaruh bentuk mata
ini. Tapi saya memang tiba-tiba tidak ingin punya mata. Alangkah gembiranya
jika mata saya tidak ada. Bukan buta, tapi memang tidak memiliki mata. Tidak
melihat dan tidak bermata.
Saya membayangkan euphoria
dari wajah tanpa mata.
Buat hemat saya, selain mulut
yang mencibirkan dosa. Mata juga memancarkan timbangan dosa yang sama. Apa
pasal? Coba kita tilik, lewat mata kita melihat keindahan, keindahan yang lalu
kita nikmati lemat-lemat, lemat-lemat yang membuat kita ingin segera melumat
keindahan yang kita lihat…lalu lambat-lambat kita pun ingin memasung keindahan
itu sendirian. Itu egois namanya, dan egois termasuk dosa besar versi saya.
Belum lagi dengan fakta bahwa
mata adalah jembatan jatuh cinta. Ungkapan, “dari mata turun ke hati” itu kan
benar adanya. Mana ada manusia jatuh cinta tanpa melihat wujud terlebih dahulu,
pun tidak memikirkan bagus-tidaknya subjek yang dilihat, manusia akan tetap
menilai dengan penglihatan. Dan ini…ini yang buat saya benci setengah mati
dengan romansa. Masalahnya kadang-kadang penglihatan lawan jenis terhadap saya,
seringkali nggak nyampe ke hati.
Kemudian sekelebat bayangan
membuat saya tersadar. Apa bagusnya dunia tanpa sudut pandang. Kalau mata saya
hilang, lalu dari sisi mana saya dapat menikmati keindahan alam. Kalau mata
saya hilang, dari segi apa saya dapat menganalisa berbagai objek yang ada di
dunia. Kalau mata saya hilang, saya pasti absent melihat pria-pria tampan…ah
saya belum lagi mau kehilangan. Saya masih mau memandang…sejauh-jauhnya
pandangan dapat saya lakukan. Walau mata saya minus 3. Walau mata saya kecil
sebelah. Walau mata saya perlu eyeliner
untuk terlihat memukau. Saya tetap mau mata saya ada.
Akhirnya kalau dipikir-pikir. Saya masih
mau mereka semua ada. Karena kalau saya ulang lagi pikiran saya. Seberapa
mengganggunya mereka pun, mereka tetap layak exist di hidup saya. Ah saya jadi terkenang seseorang…seorang
manusia yang hadir disaat paling tepat yang (selalu) tidak tepat. Mungkin dia
seperti mulut bagi saya, seperti hidung bagi saya, seperti mata bagi saya…seperti
saya yang merasa saya sesekali harus enyah, tapi berulang kali berkeras tetap
ada. Ah…sudahlah, rangkaian kata ini begitu panjang saya karang, padahal
niatnya…saya hanya ingin mengungkapkan seberapa besar rindu yang saya punya—walaupun saya memiliki rindu yang sama besarnya dengan polusi di Jakarta, saya tetap sesekali membenci tingkahnya yang layak dapat predikat spionage kelas dunia, bagaimanapun bertentangannya perasaan saya...dia tetap (selalu) ada untuk saya.
*untuk FEB dan
cintanya yang menggangu tapi selalu menimbulkan rindu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar