Senin, 15 Agustus 2016

MULUT, HIDUNG, DAN MATA



Suatu hari saya berpikir, bagaimana kalau saya tidak perlu punya mulut. Bukan bisu tapi memang tak bermulut. Kalau anda pernah baca salah satu cerita pendek seniman gaek Putu Wijaya, anda pasti nggak asing lagi dengan khayalan manusia tanpa mulut ini.

Tapi seperti kebanyakan manusia, saya pun kembali berpikir…memang ada enaknya kalau mulut ini di delete saja dari wajah kita, paling tidak menghilangnya salah satu bagian wajah ini bisa mereduksi dosa. Loh jangan ndak percaya kalau mulut itu berlumur dosa, tengok saja pagi hari di kompleks perumahan. Bukan pemandangan luar biasa lagi kalau banyak ibu rumah tangga beserta para pembantu dipandu tukang sayur tahan berdiri berjam-jam mengitari gerobak sambil sesekali ketawa-ketiwi, produk televisi tidak semenarik cerita tentang tetangga yang banting panci di pagi hari. Atau untuk skala yang lebih besar, kita bisa lihat di layar kaca, betapa televisi saling berlomba untuk memberikan kekuatan ibu-ibu supaya betah ngerumpi. Terlepas dari itu adalah fakta yang terungkap, buat saya mulut yang usil tetap saja berbuah dosa….Cuma kalau sampai-sampai mulut ini hilang selamanya dari wajah saya, lalu bagaimana nasib bibir saya yang indah, gigi-geligi saya yang dipoles putih suci, atau si lidah yang bukan hanya pandai bersilat pun juga berakrobat. Wah saya belum mau kehilangan kenikmatan duniawi sekarang. Selain daripada itu saya tokh tiba-tiba berpikir tidak ingin punya mulut ini lantaran letih memulas politic smile, poker face, atau apapun itu namanya dengan rekan sejawat yang bahkan tidak saya hafal namanya. Tapi senyum itu dibutuhkan, setidaknya ada satu laki-laki yang butuh senyuman saya setiap hari, yang perlu senyuman saya untuk menguatkan dia pergi belajar atau sekedar mengantarkan dia ke mimpinya yang indah.

Jadi ah…saya mau berpikir yang lain saja!


Suatu hari setelahnya saya berpikir lagi, bagaimana kalau saya sekarang tidak perlu punya hidung. Bukannya sengaja dihilangkan karena penyakit pernapasan akut seperti sinusitis dan kroni-kroninya, tapi memang tak berhidung (bukan juga pesek karena tulang hidungnya cekung loh ya!)…Tapi benar-benar nggak punya hidung.
Kalau sampai pikiran saya ini jadi nyata, saya sudah bayangkan bagaimana menyenangkannya. Saya akan terbebas dari derita sinus pengganggu ini, saya juga nggak perlu menutup hidung ketika truk sampah tanpa sengaja berlalu, atau yang lebih menyenangkan lagi…saya nggak perlu terobsesi punya hidung mancung bangir macam ras Arya itu….oh indahnya!!!
Tapi lalu…selintas bayangan saya berubah ngeri, terbayang bagaimana menyeramkannya kalau wajah saya begitu rata tanpa hidung yang cuma secuil ini. Betapa tidak menyenangkannya hidup saya tanpa aroma-aroma  harum alam. Atau begitu tidak sempurnanya hari-hari saya tanpa pertukaran nafas yang terengah-engah….wah!
Kalau sudah begini saya tarik lagi keinginan untuk menghilangkan hidung. Saya masih ingin punya hidung, walau hidung ini bentuknya aneh karena terlalu mungil. Saya masih cinta dengan hidung ini, walau sinusitis sungguh mengganggu kegiatan saya sehari-hari. Saya masih pingin punya hidung, walau hidung ini selalu gatal di waktu yang tidak tepat… Bagaimanapun juga ini hidung saya kan!


Suatu hari selanjutnya setelah beberapa hari lepas, saya kembali berpikir. Kali ini katanya kelewat ekstrem karena saya tiba-tiba nggak kepingin punya mata. Padahal menurut desas-desus diluaran, dari keseluruhan wajah saya, mata adalah bagian yang paling enak dilihat. Yah paling tidak nilai jual saya bisa naik karena pengaruh bentuk mata ini. Tapi saya memang tiba-tiba tidak ingin punya mata. Alangkah gembiranya jika mata saya tidak ada. Bukan buta, tapi memang tidak memiliki mata. Tidak melihat dan tidak bermata.
Saya membayangkan euphoria dari wajah tanpa mata.
Buat hemat saya, selain mulut yang mencibirkan dosa. Mata juga memancarkan timbangan dosa yang sama. Apa pasal? Coba kita tilik, lewat mata kita melihat keindahan, keindahan yang lalu kita nikmati lemat-lemat, lemat-lemat yang membuat kita ingin segera melumat keindahan yang kita lihat…lalu lambat-lambat kita pun ingin memasung keindahan itu sendirian. Itu egois namanya, dan egois termasuk dosa besar versi saya.
Belum lagi dengan fakta bahwa mata adalah jembatan jatuh cinta. Ungkapan, “dari mata turun ke hati” itu kan benar adanya. Mana ada manusia jatuh cinta tanpa melihat wujud terlebih dahulu, pun tidak memikirkan bagus-tidaknya subjek yang dilihat, manusia akan tetap menilai dengan penglihatan. Dan ini…ini yang buat saya benci setengah mati dengan romansa. Masalahnya kadang-kadang penglihatan lawan jenis terhadap saya, seringkali nggak nyampe ke hati.
Kemudian sekelebat bayangan membuat saya tersadar. Apa bagusnya dunia tanpa sudut pandang. Kalau mata saya hilang, lalu dari sisi mana saya dapat menikmati keindahan alam. Kalau mata saya hilang, dari segi apa saya dapat menganalisa berbagai objek yang ada di dunia. Kalau mata saya hilang, saya pasti absent melihat pria-pria tampan…ah saya belum lagi mau kehilangan. Saya masih mau memandang…sejauh-jauhnya pandangan dapat saya lakukan. Walau mata saya minus 3. Walau mata saya kecil sebelah. Walau mata saya perlu eyeliner untuk terlihat memukau. Saya tetap mau mata saya ada.

Akhirnya kalau dipikir-pikir. Saya masih mau mereka semua ada. Karena kalau saya ulang lagi pikiran saya. Seberapa mengganggunya mereka pun, mereka tetap layak exist di hidup saya. Ah saya jadi terkenang seseorang…seorang manusia yang hadir disaat paling tepat yang (selalu) tidak tepat. Mungkin dia seperti mulut bagi saya, seperti hidung bagi saya, seperti mata bagi saya…seperti saya yang merasa saya sesekali harus enyah, tapi berulang kali berkeras tetap ada. Ah…sudahlah, rangkaian kata ini begitu panjang saya karang, padahal niatnya…saya hanya ingin mengungkapkan seberapa besar rindu yang saya punya—walaupun saya memiliki rindu yang sama besarnya dengan polusi di Jakarta, saya tetap sesekali membenci tingkahnya yang layak dapat predikat spionage kelas dunia, bagaimanapun bertentangannya perasaan saya...dia tetap (selalu) ada untuk saya.


*untuk FEB dan cintanya yang menggangu tapi selalu menimbulkan rindu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar