(Hari ini sepertinya sepi. Saya
pilih sheet 3 dan duduk di deretan paling ujung. Benar saja malam ini kurang
banyak penumpang. Ah biarlah, bukannya bagus saya bisa menikmati perjalanan dengan
lebih santai. Seharian riuh menyelesaikan masalah buat saya penat dan ingin
sejenak menyandarkan kepala. Yah walaupun bangku bus sandarannya kurang nyaman,
manusia kan punya kemampuan adaptasi cukup baik).
“jadi kepala naganya itu merah, trus buntutnya ijo”.
“kok beda-beda warnanya?”
“iya dong, kalo gak beda kan gak boleh”.
“sama siapa?”
“sama Tuhan”.
“gak bisa gitu bang, saya udah janji malam ini selesai”
“....”
“yah sebentar lagi saya sampai Jakarta ini”
“iya udah gitu si abangnya bilang yang kemaren aku sms kamu itu”.
“hmmm”.
“lucu banget deh, logatnya itu loh”
“hehe”.
“masa dia bilang, kukawini pula ya kau punya kakak, manis kali kuliat dia
itu”.
“gula kali”.
(Celotehan riang penumpang lain
seakan meninabobokan saya dalam tidur singkat. Saya suka cerita-cerita gak
penting mereka, saya suka dengar mereka melepas lelah dengan berbagi sampah.
Wah saya kembali sarkas, padahal hari ini rencananya mau duduk manis sambil dengar
segala rupa dunia. Tapi tetap saja hati saya membantah. Si otak ini memang
gemar kongkow sama telinga buat nguping pembicaraan orang lain. Tapi anehnya si
hati yang mustinya mau tahu malah malas dengar cerita-cerita. Saya rasa sih otak
saya memang masih menggunakan fungsi 20 % nya untuk jadi otak, sementara si
hati karatan dari dulu).
“udah nyampe mana, Ma?”
“sampe Tangerang”.
“lama gak?”.
“bentar lagi”.
“Papa dimana?”.
“kan dirumah nunggu abang sama Dede”.
“hahahaaaaaaa”.
“udah gitu dia ngajak kamu ke Puncak?”
‘iya, lumayan aja kan gratis Bang, lagian cuma nemenin doang ini”.
“yang dikenalin sama si Meylan itu kan?”.
“iya yang boss tambak itu, sumpah kampungan Bang”.
“wajar”.
“tapi biar ah, yang penting fulus”.
“Papa saya pernah keliling dunia loh”.
“Papa saya pernah ke bulan”.
“wah, jauh amat, pulangnya gimana?”.
“kan bawa pesawat, pesawatnya gede banget, segede istana”.
“wah hebat ya Papa kamu”.
“Papa kamu keliling dunianya berapa hari”.
“ehm cuma sehari sih waktu itu”.
“aku gak mau tau, pokoknya malam ini kamu harus sama aku”.
“.....”
“iya, setengah jam lagi aku sampe, trus kamu boleh pulang besok pagi”.
“......”
“harus kan aku kangen”.
(Udara makin dingin malam ini,
lubang yang menyebarkan hawa dingin dengan bantuan freon perusak bumi bernama
AC itu kini saya tutup rapa-rapat. Serapat hati saya yang memutuskan untuk
tidak akan kembali lagi ke jalan yang sebelumnya saya tempuh, duh jadi curlong
nih. Padahal (lagi-lagi pake padahal) saya sudah bulatkan tekad untuk lupakan
semua yang tertinggal di belakang sana. Segala kotoran masa lalu yang sempat
mengerak dan susah dihilangkan. Ah saya yakin Jakarta sanggup mengelupas semua
kerak lampau itu (dan terbukti pikiran saya benar adanya!)...eugh saya tidur
saja ah, otot saya masih sering tremor kalau ingat dia).
“hallo”.
“Ras...”
“...”.
“please”.
“what?”.
“back home”.
“im sorry”.
“no...im sorry, Ras would
you?”.
clik.
clik.
(Dia lagi. Sudah seharian ini namanya
mondar-mandir di telepon genggam milik saya. Seharian ini pula saya coba lari
dari bayangan seorang Kirana. Kirana yang harus menjalankan keharusannya
sebagai seorang perempuan yang dianggap normal. Kiranaku yang manis jadi Siti
Nurbaya abad 21, ah Kirana...kamu bodoh, bodoh sekali. Sudah saya bilang
berulang kali, jangan mau kalah sama nasib, kenapa harus mau diperbudak peta
pikiran manusia lain. Kita ini kan lahir sendiri, mati pun nanti sendiri, kamu
manis tapi lemah, membosankan!)
I am thinking it's a sign that the freckles
In our eyes are mirror images and when
We kiss they're perfectly aligned*
In our eyes are mirror images and when
We kiss they're perfectly aligned*
From : Kirana
You know i love you.since the first time we met ‘till now.but it’s a must
dear.i have to choose,and marriage it’s my choices.i have to.im sorry,Ras!
(si bodoh itu lagi, buang-buang
pulsa!).
“nanti kita liat naganya kalo sampe Jakarta”
“malem ini?”.
“besok pagi aja”.
“tenang ya sayang”.
“tenang mulu”.
“malem ini beres semuanya Yang”.
“kamu sayang aku gak?”
“kumat”.
“sayang gak?”.
“nanti kita ke Dufan kan Ma?”
“iya kalo abang udah sembuh”.
“janji ya Ma!”.
“kalo macem-macem, telpon istrinya”.
“bisa aja lo”.
“harus bisa dong”.
“kita kapan keliling-keliling?”
“nanti aja”.
“kalo udah gede ya”.
“kalo dia minta nikah gimana Neng?”.
“e cape deh, hari gini”.
“warisannya banyak Neng”.
(Arggghhh mata saya mogok merem sekarang.
Ini pasti ulah bising manusia-manusia penggemar buang sampah sembarangan.
Kenapa pula mereka harus sumbar cerita-cerita tabu yang gak patut dibahas dalam
bus. Bodoh bodoh buodoooohhh...sama bodohnya dengan dia. Menikah kok karena
harus, keharusan menikah saja sudah bodoh, ini lagi harus menikah, ya jadi mbah
nya bodoh. Apa salahnya dua perempuan saling mencinta, tokh kita gak minta uang
atau ambil uang negara. Kita kan cuma beda jalur sama makhluk-makhluk lain yang
saling-silang. Katanya perbedaan menyelaraskan, ini sedikit berbeda saja sudah
mau dirajam, keparat! Arggghhh mereka bodoh, kamu bodoh, kalian bodoh).
“eh...nanti jangan telpon-telpon aku dulu ya,Ras”.
“kenapa?”.
“laki aku cemburuan baby, ntar
dia ngamuk”.
“kan dari cewe ini”.
“sama aja ah, ntar aku kangen lagi sama kamu”.
“alah”.
“sayang aku kan?”.
“kumat”.
“kebon jeruk, siap-siap...kebon jeruk”
(Sudah waktunya saya pulang, hampir
2 jam saya mencoba tidur dan berkelit dari perempuan manis yang duduk dengan
manisnya sambil bergelayut mesra. Perjalanan ini sama tidak pentingnya dengan
kedudukan perempuan yang duduk di samping saya. Keberadaannya memang cukup
membantu, paling tidak pertukaran hormon endorphine masih bisa berlangsung di
hidup saya, sayangnya dia bukan seorang Kirana yang manis. Kirana yang manis
sekaligus bodoh, Kiranaku yang menyerahkan diri demi sebuah harga dari kontrak
sosial. Bedebah manis itu menancapkan kenangan dengan kejamnya di kepala saya.
Sampai-sampai otak saya jadi lebih kotor dari para pemburu gosip selebritis.
Aduh Dorya...kamu memang cantik, tubuhmu pun semampai, namun kamu sama
menjijikannya dengan Kirana yang tak mau jujur. Kalian perempuan pendusta,
mesti mati di neraka, mungkin lebih kejam daripada hukuman bagi pecinta sesama
macam saya. Argh...sial, lebih baik segera pulang).
“duluan ya”.
“Ras...”
***
*Such a Great Heights – Postal Service
**ketika jarak buat saya menggila
dan menahan pipis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar