u know i adore you...
dari pertama aku bersihin sisa kuteks kmu sampai sekarang aku ketik e-mail ini...
best regards
kittycat
dari pertama aku bersihin sisa kuteks kmu sampai sekarang aku ketik e-mail ini...
best regards
kittycat
Penggalan terakhir surat elektronik itu terus membayangi
pikiran saya, begitu ingin rasanya kembali ke masa dimana dia begitu
bersungguh-sungguh dengan kalimat itu, dengan kekagumannya terhadap saya,
dengan kecintaannya yang mendalam. Saya masih ingat dengan jelas masa itu, saya
masih ingat senyum jahilnya, saya masih ingat halus jemarinya, saya masih
ingat…
"gw bersihin kuteks lo ya?".
"biarin aja lah, gue lebih suka klo kuteksnya luntur gini".
"ih ga bagus tau…".
"biarin aja lah, gue lebih suka klo kuteksnya luntur gini".
"ih ga bagus tau…".
Dia tidak perlu mendengar protes saya lebih lanjut untuk tindakannya. Saya pun begitu tidak berdaya menghadapi perempuan yang satu ini, saya tidak pernah sanggup keras apalagi kasar terhadapnya. Padahal terkadang dia sama keterlaluannya dengan perempuan-perempuan lainnya, jangankan untuk melarangnya, bahkan untuk berkata tidak pun saya enggan, dia hanya perempuan biasa kan…apakah benar?!?
"lo suka type cewek kaya apa?", kali ini rentetan pertanyaannya segera dimulai.
Saya cuma bisa diam menanggapinya, dia menggigit bibirnya—menanti jawaban.
"yang kaya apa?", masih nekat dengan pertanyaannya.
"yang type rockstar…", jawab saya seadanya.
"rockstar itu yg pake bra item ama celana dalem merah ya?".
Saya hanya menyungging sedikit senyuman untuk pertanyaanya yang lain, ah perempuan ini…
"serius dong type lo kaya apa?".
Kali ini saya putuskan untuk membuka sedikit celah untuknya.
"yang kaya lo, type gue yang kaya lo".
Dia tercengang, menunduk sambil terus membersihkan sisa kuteks yang kelihatannya sudah sangat bersih, ah bibirnya…merah jambu seperti warna pipinya kini.
Kenangan itu terus menerus melabrak titik nadir yang
telah saya buat, alam pikiran saya seakan tak berdaya menampik ajakan kenangan
untuk selalu memutar cerita yang itu-itu saja.
Hey! get
up man.. sana pergi keluar, you need some drink! Rumah ini sudah panas, entah
sudah berapa jam kau paksa untuk me-repeat kisah itu?!
It wasn't me! itu ulah tukang saring darahmu! apa? minum?? cuma orang bodoh yang menenggelamkan diri dalam kubangan alkohol saat tertimpa masalah...saya cuma minum untuk celebrate something, ketika saya sedang gembira...lagian si tukang saring itu kan sudah tak sehat dari sananya, lupa?? apa kamu mau mengkonsumsi darah kotor? kamu pikir saya nggak capek hah?! ini sudah jam 2!
Well...alright then, matikan notebook itu...sepertinya dia sudah kelelahan, saya juga sudah muak dengan lagu merengek yang daritadi kau repeat.. dan coba pejamkan matamu...ngapain daritadi cuma ngeliatin e-mail?
It wasn't me! itu ulah tukang saring darahmu! apa? minum?? cuma orang bodoh yang menenggelamkan diri dalam kubangan alkohol saat tertimpa masalah...saya cuma minum untuk celebrate something, ketika saya sedang gembira...lagian si tukang saring itu kan sudah tak sehat dari sananya, lupa?? apa kamu mau mengkonsumsi darah kotor? kamu pikir saya nggak capek hah?! ini sudah jam 2!
Well...alright then, matikan notebook itu...sepertinya dia sudah kelelahan, saya juga sudah muak dengan lagu merengek yang daritadi kau repeat.. dan coba pejamkan matamu...ngapain daritadi cuma ngeliatin e-mail?
Entah sudah berapa jam notebook itu menyala, kata-kata
yang ia kirimkan pagi tadi, balasan dari e-mail saya yang lalu. Andai saya
bisa, saya membenci kalimat andai seperti saya benci keringat, tapi kali ini
entah mengapa kata itu begitu mempesona, dan berhasil membuai saya untuk
mengucapkannya terus-menerus… damn!
Hey you! suruh si tukang saring sialan itu berhenti mengulang-ulang kisah ini!
Hey you! suruh si tukang saring sialan itu berhenti mengulang-ulang kisah ini!
Senyum serta nada suaranya yang manja selalu memaksa saya
untuk mengingat, saya begitu dipenuhi oleh memori tentangnya, hati saya gundah
membayangkan esok senyum itu bukan lagi milik saya. Duh manis sekali dia,
membiarkan saya jatuh dari langit tingkat tujuh, lalu dengan santainya
meninggalkan tubuh yang hancur berkeping-keping, atau bahkan hanya berupa
serpihan daging.
Balutan suasana dini hari kota ini tidak juga membuat
saya lemah dan memutuskan untuk sementara waktu berdiam diri, menikmati waktu
istirahat yang tinggal sebentar lagi. Saya ingin sekali mengusirnya pergi,
paling tidak sampai jam 7 pagi nanti, selanjutnya ia hendak mampir dan
mengobrak-abrik pikiran saya pun tak apa, saya hanya butuh terlelap barang
sejenak, dan berhenti mendengar buaian suaranya.
"gue mau ngelakuin sesuatu boleh ga?".
"apaan?".
"tapi janji ya jangan marah?".
"apaan dulu?".
"janji dulu".
"apaan sih?".
"janji dong".
"apaan?".
"tapi janji ya jangan marah?".
"apaan dulu?".
"janji dulu".
"apaan sih?".
"janji dong".
Saya melihat dengan jelas roman mukanya, air muka seperti biasa ketika ia memulai rentetan rajukannya, saya tahu kali ini berbeda, saya tahu ia sudah tak sabar menanti.
"janji ya?".
Cukuplah saya membuatnya kesal.
Cukuplah saya membiarkan dia berharap.
Saya pun sudah mulai gila dengan kemanjaannya.
Cukuplah saya membiarkan dia berharap.
Saya pun sudah mulai gila dengan kemanjaannya.
"sini", ujar saya sambil menariknya ke pelukan
Selanjutnya itu kali pertama bibir mungilnya melebur dengan milik saya.
Selanjutnya itu kali pertama bibir mungilnya melebur dengan milik saya.
Dia hadir lagi di kepala saya, dia bujuk lagi pikiran
saya untuk memenuhi seluruh isi otak saya akan keberadaannya. Saya cuma minta
sedikit waktu untuk mengosongkan pikiran ini, sedikit waktu untuk memanjakan
diri diatas empuknya batal dan dekapan hangat guling. Saya hanya ingin tidur,
ini sudah menjelang pagi, besok setumpuk pekerjaan menanti, dan ah…sepertinya
sudah terlambat untuk memintanya pergi dari sini.
You want me?
Fucking well come and find me
I'll be waiting
With a gun and a pack of sandwiches
And nothing**
Fucking well come and find me
I'll be waiting
With a gun and a pack of sandwiches
And nothing**
Berkali-kali lagu ini saya repeat, berkali-kali pula penggalan liriknya menenggelamkan saya,
dalam berkali-kali itu pula saya menghela nafas panjang, arghh…screw you!
Saya ingin sekali berteriak di hadapannya, saya ingin
sekali memakinya, saya ingin, sangat ingin sekali bahkan untuk
menamparnya—sekali saja. Bibir itu, mata itu, jemari mungil itu, hidung itu,
semuanya…semuanya yang ia miliki dan telah ia berikan pula pada saya,
keseluruhan tubuhnya yang telah saya jamah bertahun-tahun.
Tak mungkin, saya tak mungkin rela, saya bahkan begitu jijik membayangkan tubuhnya dijamah orang lain, dia milik saya seutuhnya. Masihkah? ataukah saya hanya berhalusinansi karena tak kunjung tidur malam ini?
Hey moron! turn off that notebook & your sissy song! go to sleep!!!
Tak mungkin, saya tak mungkin rela, saya bahkan begitu jijik membayangkan tubuhnya dijamah orang lain, dia milik saya seutuhnya. Masihkah? ataukah saya hanya berhalusinansi karena tak kunjung tidur malam ini?
Hey moron! turn off that notebook & your sissy song! go to sleep!!!
Saya ingin sekali dia hadir malam ini tepat disebelah
saya, seperti yang selalu ia lakukan ketika perih ini merajam, seperti yang
selama ini juga saya lakukan ketika sakit menghantamnya.
Kamu
dimana?!?
Kamu dimana?!?
Kamu dimana sih?!?
Kamu dimana?!?
Kamu dimana sih?!?
Hati saya berteriak, jiwa saya membentak, dia hanya milik
saya, dia hanya boleh tersentuh oleh saya, dia hanya diijinkan untuk mencintai
saya.
Saya meradang, malam ini ingin sekali saya tegaskan bahwa kuasa atasnya hanya ada pada saya, cuma untuk saya…sadarkah dia, bertahun-tahun saya tahan gejolak untuk mengikatnya tepat disisi saya, saya hampir berhasil, ya saya hampir berhasil menyematkan tali kekang itu di hidupnya, sampai akhirnya…goddamnit! kenapa dia harus menghilang?!
Saya meradang, malam ini ingin sekali saya tegaskan bahwa kuasa atasnya hanya ada pada saya, cuma untuk saya…sadarkah dia, bertahun-tahun saya tahan gejolak untuk mengikatnya tepat disisi saya, saya hampir berhasil, ya saya hampir berhasil menyematkan tali kekang itu di hidupnya, sampai akhirnya…goddamnit! kenapa dia harus menghilang?!
Saya mencoba menghubungi telepon selularnya, nada sambung
berkali-kali namun suara seraknya tak kunjung berucap "hallo…", pick up
that goddamn phone!
Paling tidak jawablah panggilan saya, saya tahu jelas kamu belum tidur, saya tahu jelas apa yang kamu lakukan saat ini, kumohon jangan buat saya tersiksa oleh bayangan, di kepala saya tergambar jelas tawamu, di hati saya tertoreh dalam kalimat-kalimat manismu, ungkapan sayangmu yang bertubi-tubi…
Jawablah sayang
Jawablah seperti biasa kau menyapa panggilan ini.
Jawablah…
Im starting to get insane here.
Paling tidak jawablah panggilan saya, saya tahu jelas kamu belum tidur, saya tahu jelas apa yang kamu lakukan saat ini, kumohon jangan buat saya tersiksa oleh bayangan, di kepala saya tergambar jelas tawamu, di hati saya tertoreh dalam kalimat-kalimat manismu, ungkapan sayangmu yang bertubi-tubi…
Jawablah sayang
Jawablah seperti biasa kau menyapa panggilan ini.
Jawablah…
Im starting to get insane here.
dari pertama aku bersihin sisa kuteks kmu
sampai sekarang aku ketik e-mail ini...
Suaranya kembali menggema, dan terbayang bibir mungilnya
ketika kalimat itu terucap, menyemu merah, mungil, dan lembut.
Oh god! begitu setiap detail akan dirinya tak juga sanggup saya hilangkan, lalu bagaimana mungkin malam ini saya jalani sendirian, bagaimana mungkin kehangatan selimut yang membalut saya dapat menggantikan kenyamanan dekapannya, saya ingin tidur… berapa kali kalimat itu keluar, saya ingin tidur! arghh saya ingin sekali tidur… ijinkan mata ini tertutup dan membuang jauh-jauh jalang itu keluar dari pikiran saya, saya mohon, saya ingin tidur!
Oh god! begitu setiap detail akan dirinya tak juga sanggup saya hilangkan, lalu bagaimana mungkin malam ini saya jalani sendirian, bagaimana mungkin kehangatan selimut yang membalut saya dapat menggantikan kenyamanan dekapannya, saya ingin tidur… berapa kali kalimat itu keluar, saya ingin tidur! arghh saya ingin sekali tidur… ijinkan mata ini tertutup dan membuang jauh-jauh jalang itu keluar dari pikiran saya, saya mohon, saya ingin tidur!
"promise me to never leave me?",
ia menenggelamkan separuh kepalanya di dada saya, sambil meminta janji dengan
rajukannya yang khas.
Saya membalas permintaan itu dengan sebuah ciuman di keningnya.
"promise me?", ujarnya lagi.
Saya menatapnya lekat, mencari-cari sudut rupanya yang mungkin akan membuat saya tertawa, tapi tidak…ia begitu terpahat sempurna, ia begitu menggoda, begitu adanya!
"oh c'mon, promise me", kali ini nadanya sedikit meningkat, rajukannya berubah menjadi paksaan.
"never…", bisikku lembut.
Ia menatap mata saya dengan bola matanya yang mungil.
"never…", ulangku lalu melumat bibirnya yang selembut marshmallow...
(saya memang tidak berencana meninggalkanmu sayang...)
Saya membalas permintaan itu dengan sebuah ciuman di keningnya.
"promise me?", ujarnya lagi.
Saya menatapnya lekat, mencari-cari sudut rupanya yang mungkin akan membuat saya tertawa, tapi tidak…ia begitu terpahat sempurna, ia begitu menggoda, begitu adanya!
"oh c'mon, promise me", kali ini nadanya sedikit meningkat, rajukannya berubah menjadi paksaan.
"never…", bisikku lembut.
Ia menatap mata saya dengan bola matanya yang mungil.
"never…", ulangku lalu melumat bibirnya yang selembut marshmallow...
(saya memang tidak berencana meninggalkanmu sayang...)
Are you
an idiott or what?! she is already gone! face it! dan cepatlah tidur, rumah ini
sudah panas sekali rasanya...
It wasn't me! kamu nggak dengerin saya ya?! it wasn't me! suruh si tukang saring itu berhenti...bukannya kamu punya otoritas untuk itu??
It wasn't me! kamu nggak dengerin saya ya?! it wasn't me! suruh si tukang saring itu berhenti...bukannya kamu punya otoritas untuk itu??
Saya masih ingat saat itu… saat dimana dunia seakan
melebur bersama-sama kami, saat dimana kedua tubuh kami melumer bersamaan
dengan larutnya malam, saat berjam-jam membahas keTuhanan tanpa sehelai benang,
ah kenapa begitu jelas ingatan ini tertanam, tidakkah luka ini akan cukup dalam
menancapkan keraguan, saya harus berkeyakinan mulai dari sekarang bukan?!? atau
mungkin saya memang dilahirkan untuk tidak berkeyakinan, sepertinya…saya pun
rela untuk berhenti percaya!
Kali kesekian saya menimbun rasa percaya adalah ketika pertemuan dengannya ditorehkan takdir di hidup saya, iya perempuan itu…yang memaksa saya melek semalam suntuk ini.
Perempuan itu…yang telah rela saya terima dengan lapang dada, dengan segala warna-warni hidupnya, dengan serentetan kehebatannya memanipulasi sesuatu menjadi nyata. Perempuan itu telah dengan liciknya menyeret saya menuju jurang ini, menjerumuskan saya dalam kenistaan, membuat saya menjauh dari kejaran impian—dan lari tunggang langgang ke arah kenyataan.
Kali kesekian saya menimbun rasa percaya adalah ketika pertemuan dengannya ditorehkan takdir di hidup saya, iya perempuan itu…yang memaksa saya melek semalam suntuk ini.
Perempuan itu…yang telah rela saya terima dengan lapang dada, dengan segala warna-warni hidupnya, dengan serentetan kehebatannya memanipulasi sesuatu menjadi nyata. Perempuan itu telah dengan liciknya menyeret saya menuju jurang ini, menjerumuskan saya dalam kenistaan, membuat saya menjauh dari kejaran impian—dan lari tunggang langgang ke arah kenyataan.
Lalu kemana ia kini, kemana dia pergi disaat hati saya
sudah sepenuhnya saya berikan, disaat sayap sudah saya patahkan sebelah untuk
tidak dapat kembali dalam keabadian, disaat saya sudah berdamai dengan segala ego dan menjadi seperti yang dia pinta.
Dia berubah dari bidadari menjadi malaikat pencabut nyawa, direnggutnya nafas
kehidupan terakhir saya dan entah dihempaskannya kemana, dia buat saya tercekat
mati raga, dia buat saya sekarat, dia buat saya insomnia…dia buat saya
meradang!
Dia lenyap ditelan bumi.
Dia enggan berlama-lama meniti setapak demi setapak jalan yang harus saya daki.
Dia mungkin hanya tak sanggup menahan gejolak hasrat, dan kemudian pergi meninggalkan saya sendiri dengan hanya mengirimkan sebuah surat elektronik, permohonan maaf yang mendalam, bukti penyesalan atas pengkhianatannya selama ini.
Dia lenyap ditelan bumi.
Dia enggan berlama-lama meniti setapak demi setapak jalan yang harus saya daki.
Dia mungkin hanya tak sanggup menahan gejolak hasrat, dan kemudian pergi meninggalkan saya sendiri dengan hanya mengirimkan sebuah surat elektronik, permohonan maaf yang mendalam, bukti penyesalan atas pengkhianatannya selama ini.
Dia tak lagi suci dimataku.
Dia bukan lagi my baby grand.
Dia berhenti mencintai…
Dia bukan lagi my baby grand.
Dia berhenti mencintai…
Damn!
saya nggak sanggup lagi mengkontrol si tukang saring sialan itu, sepertinya
penyakit turunanmu itu penyebabnya...
Alahh...sudahlah jangan cari alasan, akui saja kalau kamu sudah kehilangan wibawa!
Hey, bukan cuma saya yang punya andil pengaruhi dia, kenapa tak kau salahkan retina? tulisan yang kau baca berulang-ulang itu biangnya!
Arghh...shut your mouth!
Alahh...sudahlah jangan cari alasan, akui saja kalau kamu sudah kehilangan wibawa!
Hey, bukan cuma saya yang punya andil pengaruhi dia, kenapa tak kau salahkan retina? tulisan yang kau baca berulang-ulang itu biangnya!
Arghh...shut your mouth!
and i know that u'll be there for me
u deserved to get better
kamu hadiah dr Tuhanku
yg gak berhasil aku jaga baik2...
u know i adore you...
dari pertama aku bersihin sisa kuteks kmu sampai sekarang aku ketik e-mail ini...
u deserved to get better
kamu hadiah dr Tuhanku
yg gak berhasil aku jaga baik2...
u know i adore you...
dari pertama aku bersihin sisa kuteks kmu sampai sekarang aku ketik e-mail ini...
Saya kembali mengamati setiap baris tulisannya, saya
kembali terhempas dengan rangkaian katanya yang selalu berhasil menjatuhkan.
Saya tidak tahu mengapa ada ketertarikan tersediri pada 2 baris terakhir
suratnya, saya pun tak mengerti mengapa 2 baris kalimat terakhir itu begitu mengusik
kegetiran saya, mungkin pesan itu begitu menarik bagi sisi pahit hidup saya
kini, mungkin juga pesan itu menambah kepahitan yang saya rasakan kini.
Saya kira cukuplah jam istirahat saya terganggu malam
ini, saya harus sesegera mungkin menyimpan kisah ini dalam rak kaca,
selanjutnya saya hanya akan memutarnya sesekali, saya berhenti marah
padanya—entah mengapa…
Mungkin selama ini dia ada benarnya, saya gagal
menjalankan peran sebagai laki-laki, bahkan untuk membencinya pun saya tak
sanggup. Tapi sudahlah, inilah rasa yang seharusnya saya bingkiskan untuk
si-tukang-manipulasi itu, cinta yang selalu dikisahkan dalam roman percintaan
klasik, cinta sebagaimana adanya.
Lalu saya rangkaian kalimat balasan untuknya, saya
sisipkan betapa rasa kehilangan ini menorehkan luka yang terlampau sulit untuk
dihilangkan, untuknya saya sengaja kirimkan bagian terakhir dari keseluruhan
rasa yang telah saya rawat baik-baik selama ini, semoga dia mendengarnya, dan
membalas ketulusan ini dengan senyuman…
Akhirnya saya menyerah, saya berhenti memakinya, berhenti memaki diri saya sendiri.
Akhirnya saya menyerah, saya berhenti memakinya, berhenti memaki diri saya sendiri.
now, i let you go with free...
reach your happiness out there...
jgn lupa, kamu dah dewasa, stop playin with fire ;P
tebuslah semua kesalahanmu dengan setia dgn
siapapun pasanganmu...
reach your happiness out there...
jgn lupa, kamu dah dewasa, stop playin with fire ;P
tebuslah semua kesalahanmu dengan setia dgn
siapapun pasanganmu...
Kini saya bersandar pada luka yang (mungkin pemberiaannya
mungkin juga kerelaan hati saya) ada di dalam sini, membiarkan segenap kekuatan
saya terkuras habis untuk perih yang tiba-tiba saja datang. Saya menyerah, saya
tutup usai semua kisah yang ekspektasinya terlalu berlebihan. Dia mungkin
merajam hati saya dengan sakit yang luar biasa, memaknai kasih setia saya
dengan kebohongan, namun dia tetaplah perempuan yang saya daulat sebagai the one and only, tak sepatutnya saya
memendam benci pada perempuan yang saya pasrahkan hati ini kepadanya, atau
sebenarnya sudah sepantasnya saya balaskan dendam ini lewat damai. Atau memang
saya sudah tidak pantas menyandang gelar laki-laki. arghh…tai kucing! saya tidak peduli lagi, saya cuma mau tidur
sekarang...
Well, so long
kittycat…
"I'll be fine"
"I'll be fine"
**talk show host by RADIOHEAD
taken with no permission
taken with no permission
in colaboratte with N.
Hidayat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar