Selasa, 13 Desember 2016

SAYANG [pt.1]


Ada orang lain yang membuat Ibumu jatuh cinta, tapi darahnya tidak memberimu hidup, raganya tidak turut serta menanam kamu dalam tubuhku. Dia orang lain, yang baru saja datang dan pelan-pelan menumbuhkan rasa. rasa yang telah lama dicabik paksa oleh Ayahmu. Ibu jatuh cinta.
Bukan kali ini saja Ibu jatuh cinta, sudah ratusan kali Ibu jatuh cinta; jatuh dan cinta, dua suku kata, saling menghadang, yang satu menawarkan luka yang lain menawarkan suka. Jatuh cinta ibarat racun dan penawar dalam satu kata, nyatanya sayangku...jatuh cinta tidak serta merta membuat kita mendadak gila atau seketika bahagia. 

Mulanya sayangku, Ibu jatuh cinta pada Ayahmu, pria asing yang menjabat tanganku dan mengucapkan namanya dengan mantap. Dalam bahasa Batak namanya berarti Indah, Maruli, dan benarlah Ayahmu orang yang indah. Suaranya indah, kecakapannya dalam bekerja indah, dan jangan lupakan bagian paling indah dari Ayahmu—senyumnya. Ibumu jatuh cinta pada pria yang indah. Kami lalu bersama, kebersamaan yang juga indah sampai kamu datang, pria yang lebih indah dari Maruli, pria yang membuatku jatuh cinta berkali-kali, setiap hari. Maruli tidak terima, kedatanganmu membuatku seperti perempuan empat belas tahun yang mendapat surat cinta setiap pagi. Aku tidak lagi memikirkan Maruli, hidupku hanya ada kamu, dalam jiwaku kamu bersemayam, lambat laun Maruli ringsek; berlindung di kemilau cairan yang membuatnya lupa seketika. Maruli yang malang—dia hanya butuh semalam penuh tualang panjang, nyatanya dia lupa jalan pulang. Akhirnya kami sama-sama menghilang, bedanya aku tetap menyimpan sedikit cinta, Maruli menghilangkan kunci hatinya.

Perihal cinta ini anakku, adalah hal yang seharusnya menjadi pelajaran penting dariku—untukmu. Tapi Ibu terlalu pandir untuk mengajarkan soal-menyoal cinta. Ibu sendiri bingung, apakah cinta adalah hasrat yang selalu menggebu dan penuh bumbu atau seperti ini, yang lembut dan perlahan, yang pelan tetapi menawan.
Maafkan Ibu sayang, seharusnya sebelum kamu datang, Ibu sudah bersiap dengan seruangan penuh buku tentang cinta, nyatanya ruangan itu kosong. Jangankan memberikan buku, pengalaman pun Ibu tak mampu.

Tapi kini aku jatuh cinta, hebatnya dua sekaligus. Dengan Ayahmu, cinta sewarna darah--merah dan membara, dengan dia, cinta seperti salju—putih dan malu-malu. Dua jiwa sekaligus dalam satu hati, hatiku yang luasnya tidak lebih dari sebuah ruangan kecil berisikan satu kasur ukuran 90 x 90, meja kayu, cermin usang, dan sebuah sofa tua yang warnanya pudar dan penuh bekas cakaran. Hatiku yang sempit ini membagi pada dua pesona yang bertolak belakang, yang satu menyalakan amarah, yang lain redup dalam pasrah. Jika Ayahmu sedang berada di dalam hatiku, seketika ruangan ini menjadi gegap gempita, Ayahmu pria yang selalu bersemangat, suaranya keras, emosinya meledak-ledak. Sementara jika pria lain itu yang sedang duduk di dalam hatiku, ruangan ini seketika syahdu, cat dindingnya sewarna lembayung, dan sofa usang itu kehilangan lusuhnya dan berubah lembut.

Mana yang lebih perempuan pilih, api yang menyala-nyala, atau air yang tenang seperti laguna? Seharusnya mereka bersatu dan seimbang, seharusnya mereka menjadi laguna dengan api abadi di tengahnya atau mungkin menjadi sumber air panas yang selalu menghangatkan di musim hujan. Tapi mengharapkan penyatuan yang begitu berbeda adalah sebuah kejahatan, sayang. Ibu tidak sekeji ini. Hatiku memang terbagi tapi kemanusiaanku tidak boleh begitu saja berubah keji.
Bagaimana akhir dari kisah ini?
Tidak pernah ada akhir, sampai aku selesai bernafas, dua manusia itu tetap tinggal dalam hati, sayangnya mereka kini berubah menjadi zombie. Dalam suatu kesempatan, ketika Ayahmu singgah sejenak, pria itu datang dengan sekeranjang bunga dan memintaku untuk memilihnya saja. Hatiku berubah menjadi arena perang. Ayahmu yang pemarah jelas tidak terima, baginya aku adalah miliknya yang harus dipertahankan sampai darahnya mengering. Pria lain itu di sisi lain, menganggap aku seperti melati yang mudah remuk, betapa aku wajib dilindungi dari kejamnya cinta Ayahmu. Dan aku si perempuan yang membagi hati ini hanya berdiri bagai juri. Menilai laki-laki mana yang layak mendapatkanku sebagai tropi.
Peperangan itu berkecamuk cukup lama. Dua diantara mereka cukup kuat dan memiliki ajian yang sama-sama ampuh. Aku tetap berdiri dan menjadi juri.
Sampai akhirnya darah dimana-dimana. Mereka terluka. Cipratannya mengenai wajahku si juri. Sampai benar-benar habis dan ruangan itu kini serupa kolam darah. Aku si juri kemudian tenggelam. Mereka yang berperang kehilangan segalanya; otak untuk berpikir jernih, hati untuk berbuat tulus, dan mata untuk melihat dengan jelas. Setelah kolam darah itu mengering dan berubah menjadi kerak. Mereka duduk di sofa usang itu, tua dan carut marut lalu menyalakan rokok yang tak pernah mampu mereka hisap.
Dua laki-laki itu menjadi zombie.
Dan aku si juri mengeluarkan mereka dari arena; mencari laki-laki lain yang masih memiliki otak, hati, juga mata. Bagaimana nasib mereka? Sama seperti nasib semua laki-laki di muka bumi yang tak mampu menahan diri—pelan-pelan mereka mati.



Sayang,
Jangan percaya jika mereka bilang laki-laki itu jahat dan tidak berperasaan. Perempuan di sisi lain punya kemampuan untuk memanipulasi kalian untuk menjadi jahat lalu mati perlahan. Take my advice; tempus fugit, temet nosce!!!





28 Februari 2016
5 tahun setelah perkawinan di pinggir pantai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar