Ada orang lain yang membuat Ibumu jatuh cinta, tapi
darahnya tidak memberimu hidup, raganya tidak turut serta menanam kamu dalam
tubuhku. Dia orang lain, yang baru saja datang dan pelan-pelan menumbuhkan
rasa. rasa yang telah lama dicabik paksa oleh Ayahmu. Ibu jatuh cinta.
Bukan kali ini saja Ibu jatuh cinta, sudah ratusan
kali Ibu jatuh cinta; jatuh dan cinta, dua suku kata, saling menghadang, yang
satu menawarkan luka yang lain menawarkan suka. Jatuh cinta ibarat racun dan
penawar dalam satu kata,
nyatanya sayangku...jatuh cinta tidak serta merta membuat kita mendadak gila
atau seketika bahagia.
Mulanya sayangku, Ibu jatuh cinta pada Ayahmu, pria
asing yang menjabat tanganku dan mengucapkan namanya dengan mantap. Dalam
bahasa Batak namanya berarti Indah, Maruli, dan benarlah Ayahmu orang yang
indah. Suaranya indah, kecakapannya dalam bekerja indah, dan jangan lupakan
bagian paling indah dari Ayahmu—senyumnya. Ibumu jatuh cinta pada pria yang
indah. Kami lalu bersama, kebersamaan yang juga indah sampai kamu datang, pria
yang lebih indah dari Maruli, pria yang membuatku jatuh cinta berkali-kali,
setiap hari. Maruli tidak terima, kedatanganmu membuatku seperti perempuan
empat belas tahun yang mendapat surat cinta setiap pagi. Aku tidak lagi
memikirkan Maruli, hidupku hanya ada kamu, dalam jiwaku kamu bersemayam, lambat
laun Maruli ringsek; berlindung di kemilau cairan yang membuatnya lupa
seketika. Maruli yang malang—dia hanya butuh semalam penuh tualang panjang,
nyatanya dia lupa jalan pulang. Akhirnya kami sama-sama menghilang, bedanya aku
tetap menyimpan sedikit cinta, Maruli menghilangkan kunci hatinya.
Perihal cinta ini anakku, adalah hal yang seharusnya
menjadi pelajaran penting dariku—untukmu. Tapi Ibu terlalu pandir untuk
mengajarkan soal-menyoal cinta. Ibu sendiri bingung, apakah cinta adalah hasrat
yang selalu menggebu dan penuh bumbu atau seperti ini, yang lembut dan
perlahan, yang pelan tetapi menawan.
Maafkan Ibu sayang, seharusnya sebelum kamu datang,
Ibu sudah bersiap dengan seruangan penuh buku tentang cinta, nyatanya ruangan
itu kosong. Jangankan
memberikan buku, pengalaman pun Ibu tak mampu.
Tapi kini aku jatuh cinta, hebatnya dua sekaligus.
Dengan Ayahmu, cinta sewarna darah--merah dan membara, dengan dia, cinta
seperti salju—putih dan malu-malu. Dua jiwa sekaligus dalam satu hati,
hatiku yang luasnya tidak lebih dari sebuah ruangan kecil berisikan satu kasur
ukuran 90 x 90, meja kayu, cermin usang, dan sebuah sofa tua yang warnanya pudar dan
penuh bekas cakaran. Hatiku yang sempit ini membagi pada dua pesona yang
bertolak belakang, yang satu menyalakan amarah, yang lain redup dalam pasrah. Jika
Ayahmu sedang berada di dalam hatiku, seketika ruangan ini menjadi gegap
gempita, Ayahmu pria yang selalu bersemangat, suaranya keras, emosinya meledak-ledak.
Sementara jika pria lain itu yang sedang duduk di dalam hatiku, ruangan ini
seketika syahdu, cat dindingnya sewarna lembayung, dan sofa usang itu
kehilangan lusuhnya dan berubah lembut.
Mana
yang lebih perempuan pilih, api yang menyala-nyala, atau air yang tenang
seperti laguna? Seharusnya mereka bersatu dan seimbang, seharusnya mereka
menjadi laguna dengan api abadi di tengahnya atau mungkin menjadi sumber air
panas yang selalu menghangatkan di musim hujan. Tapi mengharapkan penyatuan
yang begitu berbeda adalah sebuah kejahatan, sayang. Ibu tidak sekeji ini.
Hatiku memang terbagi tapi kemanusiaanku tidak boleh begitu saja berubah keji.
Bagaimana
akhir dari kisah ini?
Tidak
pernah ada akhir, sampai aku selesai bernafas, dua manusia itu tetap tinggal
dalam hati, sayangnya mereka kini berubah menjadi zombie. Dalam suatu
kesempatan, ketika Ayahmu singgah sejenak, pria itu datang dengan sekeranjang
bunga dan memintaku untuk memilihnya saja. Hatiku berubah menjadi arena perang.
Ayahmu yang pemarah jelas tidak terima, baginya aku adalah miliknya yang harus dipertahankan
sampai darahnya mengering. Pria lain itu di sisi lain, menganggap aku seperti melati yang mudah
remuk, betapa aku wajib
dilindungi dari kejamnya cinta Ayahmu. Dan aku si perempuan yang membagi hati
ini hanya berdiri bagai juri. Menilai laki-laki mana yang layak mendapatkanku
sebagai tropi.
Peperangan
itu berkecamuk cukup lama. Dua diantara mereka cukup kuat dan memiliki ajian
yang sama-sama ampuh. Aku tetap berdiri dan menjadi juri.
Sampai
akhirnya darah dimana-dimana. Mereka terluka. Cipratannya mengenai wajahku si
juri. Sampai benar-benar habis dan ruangan itu kini serupa kolam darah. Aku si
juri kemudian tenggelam. Mereka yang berperang kehilangan segalanya; otak untuk
berpikir jernih, hati untuk berbuat tulus, dan mata untuk melihat dengan jelas.
Setelah kolam darah itu mengering dan berubah menjadi kerak. Mereka duduk di
sofa usang itu, tua dan carut marut lalu menyalakan rokok yang tak pernah mampu
mereka hisap.
Dua
laki-laki itu menjadi zombie.
Dan
aku si juri mengeluarkan mereka dari arena; mencari laki-laki lain yang masih
memiliki otak, hati, juga mata. Bagaimana nasib mereka? Sama seperti
nasib semua laki-laki di muka bumi yang tak mampu menahan diri—pelan-pelan
mereka mati.
Sayang,
Jangan percaya jika mereka bilang
laki-laki itu jahat dan tidak berperasaan. Perempuan di sisi lain punya
kemampuan untuk memanipulasi kalian untuk menjadi jahat lalu mati perlahan.
Take my advice; tempus fugit, temet
nosce!!!
28 Februari 2016
5 tahun setelah perkawinan di pinggir
pantai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar