Lima belas tahun yang lalu, dia adalah pria
yang saya kenal dari ujung jendela. Jendela yang membuat saya menunggu;
menunggu seorang pria yang tersenyum lewat sudut matanya. Mata yang indah yang dengan
kekuatan super-cepat menangkap mata saya. Lalu mata saya dan matanya bertemu, berkejaran
untuk mencapai intensi yang semu. Semu yang mempertemukan kedua sudut mata
kita, si perempuan di sudut jendela dan si laki-laki yang menatapnya dengan
jumawa.
Saat itu saya hanyalah perempuan yang menginginkan
rasanya rindu, yang melepaskan keinginan merindu pada dinginnya beku, sampai
saatnya datang senyuman itu—senyuman yang bersemangat memburu rindu.
Lima belas tahun dan waktu dengan kejamnya
memberangas sesuatu, waktu yang tidak membiarkan saya dan dia untuk menghemat-hemat
kenangan; waktu yang memaksa kami berdua menguapkan debar...yang seharusnya
saya simpan saja diam-diam supaya tidak ia berikan dengan sukarela pada suatu
kala.
***
Setiap pagi segala kesibukan menjadi Ibu saya
mulai di jam 5 pagi, menjerang air panas, memasak nasi goreng, menyiapkan baju
sekolah dan kerja, membersihkan rumah, mandi, dan melakukan semuanya dalam
keheningan pagi. Saya dilarang untuk bekerja tanpa ketulusan, bekerja dengan
berisik berarti mengganti ikhlas yang berbuah pahala dengan dosa dan hukuman
neraka. Anak-anak sebentar lagi akan bangun ketika waktu menunjukan angka 5.30,
waktu dimana saya akan mengguncang mereka dengan kelembutan dan merasakan aroma
kanak-kanak yang khas, ruapan mimpi mereka yang ceria—sedikit kebahagiaan yang
mereka cipratkan untuk ibunya. Lalu mereka akan terkaget-kaget, menggeliat,
melihat didepannya kini Ibu sudah tersenyum dan berpakaian rapih, lalu
berlari...anak-anak akan seperti itu; melihat kearah para Ibu sambil
terkantuk-kantuk tapi tetap memendam kagum, tapi tak lama; waktu yang kita
miliki sebagai Ibu tidak pernah lama, segera saja waktu akan mendobrak pintu
dan memaksa kebahagiaan itu untuk lari tunggang langgang—mengejar cita-cita. Lalu
ketika angka di jam maju setengah, anak-anak akan kembali melambai, “dadah
Ibu...sampai jumpa”, saya akan tersenyum membalas lambaian tangan mereka,
berharap siang segera datang dan kebahagiaan saya kembali pulang.
Ketika jarumnya menunjuk angka 7, saya
terbirit-birit menghampiri dia, yang masih belum juga berubah posisi, masih
dengan ruapan mimpinya yang jauh berbeda dengan kenyataan—mimpinya yang
dikerumuni bidadari-bidadari produksi surga, dengan payudara kencang dan pantat
yang gempal, jangan lupa batas lingkar pinggang yang dapat ditoleransi surga
hanya 80 cm; persis seperti bidadari-bidadari yang rajin fitness. Saya melihat
dia yang tidur dalam kedamaian, saya tidak pernah tega merenggutnya dari alam
mimpi, saya tidak pernah kuat melihatnya kembali kehilangan mimpi karena
terpaksa bangun, lebih sedih lagi kalau mimpi itu adalah bagian dari hidupnya
yang nyata; bukan dengan saya...istrinya atau dua anak perempuannya atau dengan
pekerjaannya atau dengan keseluruhan pilihannya. Jadi saya biarkan dia selama
limabelas menit tersenyum dengan mimpinya, dengan segarnya mimpi yang basah;
tapi maaf hanya saya berikan retensi limabelas menit—bukan saya si jahat, tapi
dia punya tugas yang membayarnya 20 juta per bulan.
Sebelum saya bergerak, dia
menggeliat—melingkarkan tangannya di pinggang yang tak lagi sintal sambil
menggumam, kalimat yang seharusnya tidak perlu saya dengar, nama yang
seharusnya tidak pernah terdengar—tidak pernah terucap.
Kenapa kamu cinta mati dengan diam?!?
Jam tujuh datang dan langkah kakimu terdengar
memburu, disusul dengan suara air yang keluar dari shower, sebentar saja lalu
pintu terbuka. Tubuh telanjang di seberang ruangan itu masih tegap dengan
pinggang yang teji. Kulitmu yang kuning, rambutmu yang hitam, mata tanpa
kacamata, dan tulang pipi yang membuat saya jatuh ke jurang cinta. Usia tidak
membuat pesonamu pudar, usia justru membuatmu semakin mekar—saya tetap jatuh
hati. Mata kita akhirnya bertumbuk, kamu melihat saya dengan tatapan mengagumi
sambil memegang sapu di tangan kiri...lalu kembali seutas senyuman itu datang
lagi.
7.20 lalu kamu pergi, saya (lagi-lagi)
ditinggal sendiri. Sepi. Kesendirian yang membuat saya nyeri. Akankah setiap
hari akan berlalu seperti ini. Ketika si kembar pergi dan kamu pergi. Ketika
semua pergi dan saya ditinggal sendiri. Saya yang bingung ketika diri memiliki
waktunya sendiri. Telepon genggam yang tidak berfungsi. Siaran televisi yang
semakin membuat saya depresi; cerita yang di repetisi setiap hari: istri semampai,
suami tampan dengan kendaraan menawan, anak-anak dengan dunia seperti iklan
berjalan. Samasekali bukan dunia yang saya kenal, dunia yang berputar di
keliling saya adalah dunia dimana para istri kelebihan berat badan, para suami
berperut buncit, anak-anak obesitas atas bantuan fast food atau terlalu kurus
karena tubuhnya dipenuhi cacing pita. Dunia televisi mungkin membuat separuh
kami bermimpi, mimpi yang kemungkinan besar justru menyebabkan depresi karena
tak kunjung mawujud. Akhirnya saya putuskan untuk menghabiskan detik dengan pergi—tidur. Saya
harap bisa bermimpi, seindah mimpinya. Tapi tidak bisa saya membayangkan pria
lain yang lebih baik dari dia. Secara turun-temurun para perempuan dalam
keluarga kami memuja cinta, menghamba pada para pria, menjadi perempuan utuh
yang penurut. Membayangkan pinggang lain, mata lain, hidung lain, bibir lain
hanyalah menumpuk dosa yang seharusnya dihindari. Tapi betul kiranya bahwa
detik tak bertepi, setelah saya puaskan diri dalam sendiri, jarum jam sudah
mengubah angkanya dengan signifikan. Sebentar lagi si kembar pulang, dengan
setumpuk tugas mereka yang sama beratnya dengan tas sekolah mereka setiap hari.
Saya lihat mereka terbungkuk-bungkuk membawa buku, dalam hati saya tidak
terima, tapi sedikit dari otak saya berontak. Saya tak sampai hati membiarkan
mereka hanya menjadi abdi; menjadi istri. Jadi saya biarkan hati saya merana
melihat penderitaan mereka, merelakan mereka memeras otak dengan batas
kemampuan yang wajar. Saya terluka tapi saya rela. Serela saya melihat Bapaknya
mereguk nikmat dari cawan yang berbeda, setidaknya dia pulang dan memberi
sedikit kenikmatan itu pada saya (walau hanya beberapa menit).
Lalu pada akhirnya...hari akan kami tutup
dengan menunggu dia datang, datang dengan tampang yang lusuh dan cerita yang
dipendam. Meski lelah ia sempatkan mencium kedua putrinya, mendengar celoteh si
kembar dengan sabar. Ketika jam sudah berada di angka sembilan, dan si kembar
sudah kelelahan bercerita. Kami semua kembali ke kamar masing-masing. Anak-anak
ke kamarnya di lantai dua, dan kami di lantai satu—dengan pintu kamar yang
berbeda. Saya biarkan dia kembali ke alam mimpi; saya berikan diri saya satu
lagi tabungan pahala atas keikhlasan sebagai istri yang mengabdi...yang 10
tahun ini tidak diperbolehkan tidur seranjang dengan suaminya.
Saya dan cinta harian yang saya punya.
Cinta yang akan berbuah kunci pintu surga.
26-03-2015
Latte
dan cap sah yang membangunkan inspirasi
*untuk
pengabdian tanpa kepedihan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar