Selasa, 13 Desember 2016

Cinta Harian



Lima belas tahun yang lalu, dia adalah pria yang saya kenal dari ujung jendela. Jendela yang membuat saya menunggu; menunggu seorang pria yang tersenyum lewat sudut matanya. Mata yang indah yang dengan kekuatan super-cepat menangkap mata saya. Lalu mata saya dan matanya bertemu, berkejaran untuk mencapai intensi yang semu. Semu yang mempertemukan kedua sudut mata kita, si perempuan di sudut jendela dan si laki-laki yang menatapnya dengan jumawa.
Saat itu saya hanyalah perempuan yang menginginkan rasanya rindu, yang melepaskan keinginan merindu pada dinginnya beku, sampai saatnya datang senyuman itu—senyuman yang bersemangat memburu rindu.
Lima belas tahun dan waktu dengan kejamnya memberangas sesuatu, waktu yang tidak membiarkan saya dan dia untuk menghemat-hemat kenangan; waktu yang memaksa kami berdua menguapkan debar...yang seharusnya saya simpan saja diam-diam supaya tidak ia berikan dengan sukarela pada suatu kala.
***
Setiap pagi segala kesibukan menjadi Ibu saya mulai di jam 5 pagi, menjerang air panas, memasak nasi goreng, menyiapkan baju sekolah dan kerja, membersihkan rumah, mandi, dan melakukan semuanya dalam keheningan pagi. Saya dilarang untuk bekerja tanpa ketulusan, bekerja dengan berisik berarti mengganti ikhlas yang berbuah pahala dengan dosa dan hukuman neraka. Anak-anak sebentar lagi akan bangun ketika waktu menunjukan angka 5.30, waktu dimana saya akan mengguncang mereka dengan kelembutan dan merasakan aroma kanak-kanak yang khas, ruapan mimpi mereka yang ceria—sedikit kebahagiaan yang mereka cipratkan untuk ibunya. Lalu mereka akan terkaget-kaget, menggeliat, melihat didepannya kini Ibu sudah tersenyum dan berpakaian rapih, lalu berlari...anak-anak akan seperti itu; melihat kearah para Ibu sambil terkantuk-kantuk tapi tetap memendam kagum, tapi tak lama; waktu yang kita miliki sebagai Ibu tidak pernah lama, segera saja waktu akan mendobrak pintu dan memaksa kebahagiaan itu untuk lari tunggang langgang—mengejar cita-cita. Lalu ketika angka di jam maju setengah, anak-anak akan kembali melambai, “dadah Ibu...sampai jumpa”, saya akan tersenyum membalas lambaian tangan mereka, berharap siang segera datang dan kebahagiaan saya kembali pulang.

Ketika jarumnya menunjuk angka 7, saya terbirit-birit menghampiri dia, yang masih belum juga berubah posisi, masih dengan ruapan mimpinya yang jauh berbeda dengan kenyataan—mimpinya yang dikerumuni bidadari-bidadari produksi surga, dengan payudara kencang dan pantat yang gempal, jangan lupa batas lingkar pinggang yang dapat ditoleransi surga hanya 80 cm; persis seperti bidadari-bidadari yang rajin fitness. Saya melihat dia yang tidur dalam kedamaian, saya tidak pernah tega merenggutnya dari alam mimpi, saya tidak pernah kuat melihatnya kembali kehilangan mimpi karena terpaksa bangun, lebih sedih lagi kalau mimpi itu adalah bagian dari hidupnya yang nyata; bukan dengan saya...istrinya atau dua anak perempuannya atau dengan pekerjaannya atau dengan keseluruhan pilihannya. Jadi saya biarkan dia selama limabelas menit tersenyum dengan mimpinya, dengan segarnya mimpi yang basah; tapi maaf hanya saya berikan retensi limabelas menit—bukan saya si jahat, tapi dia punya tugas yang membayarnya 20 juta per bulan.

Sebelum saya bergerak, dia menggeliat—melingkarkan tangannya di pinggang yang tak lagi sintal sambil menggumam, kalimat yang seharusnya tidak perlu saya dengar, nama yang seharusnya tidak pernah terdengar—tidak pernah terucap.
Kenapa kamu cinta mati dengan diam?!?
Jam tujuh datang dan langkah kakimu terdengar memburu, disusul dengan suara air yang keluar dari shower, sebentar saja lalu pintu terbuka. Tubuh telanjang di seberang ruangan itu masih tegap dengan pinggang yang teji. Kulitmu yang kuning, rambutmu yang hitam, mata tanpa kacamata, dan tulang pipi yang membuat saya jatuh ke jurang cinta. Usia tidak membuat pesonamu pudar, usia justru membuatmu semakin mekar—saya tetap jatuh hati. Mata kita akhirnya bertumbuk, kamu melihat saya dengan tatapan mengagumi sambil memegang sapu di tangan kiri...lalu kembali seutas senyuman itu datang lagi.
7.20 lalu kamu pergi, saya (lagi-lagi) ditinggal sendiri. Sepi. Kesendirian yang membuat saya nyeri. Akankah setiap hari akan berlalu seperti ini. Ketika si kembar pergi dan kamu pergi. Ketika semua pergi dan saya ditinggal sendiri. Saya yang bingung ketika diri memiliki waktunya sendiri. Telepon genggam yang tidak berfungsi. Siaran televisi yang semakin membuat saya depresi; cerita yang di repetisi setiap hari: istri semampai, suami tampan dengan kendaraan menawan, anak-anak dengan dunia seperti iklan berjalan. Samasekali bukan dunia yang saya kenal, dunia yang berputar di keliling saya adalah dunia dimana para istri kelebihan berat badan, para suami berperut buncit, anak-anak obesitas atas bantuan fast food atau terlalu kurus karena tubuhnya dipenuhi cacing pita. Dunia televisi mungkin membuat separuh kami bermimpi, mimpi yang kemungkinan besar justru menyebabkan depresi karena tak kunjung mawujud. Akhirnya saya putuskan untuk  menghabiskan detik dengan pergi—tidur. Saya harap bisa bermimpi, seindah mimpinya. Tapi tidak bisa saya membayangkan pria lain yang lebih baik dari dia. Secara turun-temurun para perempuan dalam keluarga kami memuja cinta, menghamba pada para pria, menjadi perempuan utuh yang penurut. Membayangkan pinggang lain, mata lain, hidung lain, bibir lain hanyalah menumpuk dosa yang seharusnya dihindari. Tapi betul kiranya bahwa detik tak bertepi, setelah saya puaskan diri dalam sendiri, jarum jam sudah mengubah angkanya dengan signifikan. Sebentar lagi si kembar pulang, dengan setumpuk tugas mereka yang sama beratnya dengan tas sekolah mereka setiap hari. Saya lihat mereka terbungkuk-bungkuk membawa buku, dalam hati saya tidak terima, tapi sedikit dari otak saya berontak. Saya tak sampai hati membiarkan mereka hanya menjadi abdi; menjadi istri. Jadi saya biarkan hati saya merana melihat penderitaan mereka, merelakan mereka memeras otak dengan batas kemampuan yang wajar. Saya terluka tapi saya rela. Serela saya melihat Bapaknya mereguk nikmat dari cawan yang berbeda, setidaknya dia pulang dan memberi sedikit kenikmatan itu pada saya (walau hanya beberapa menit).

Lalu pada akhirnya...hari akan kami tutup dengan menunggu dia datang, datang dengan tampang yang lusuh dan cerita yang dipendam. Meski lelah ia sempatkan mencium kedua putrinya, mendengar celoteh si kembar dengan sabar. Ketika jam sudah berada di angka sembilan, dan si kembar sudah kelelahan bercerita. Kami semua kembali ke kamar masing-masing. Anak-anak ke kamarnya di lantai dua, dan kami di lantai satu—dengan pintu kamar yang berbeda. Saya biarkan dia kembali ke alam mimpi; saya berikan diri saya satu lagi tabungan pahala atas keikhlasan sebagai istri yang mengabdi...yang 10 tahun ini tidak diperbolehkan tidur seranjang dengan suaminya.

Saya dan cinta harian yang saya punya.
Cinta yang akan berbuah kunci pintu surga.


26-03-2015
Latte dan cap sah yang membangunkan inspirasi
*untuk pengabdian tanpa kepedihan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar