Ibumu tergoda, tapi sang penggoda bukan setan berupa
manusia atau malaikat yang baru saja ganti profesi sebagai iblis; dia manusia
biasa. Berhati sepenuhnya seperti manusia, berjalan selayaknya makhluk
berintelegensi, makan sehari tiga kali—sayangnya dia bertindak seperti malaikat
yang sedang galau-galaunya. Makanannya hanya bisa dia telan ketika reaksi kimia
sudah menutaskan tugasnya untuk memberi kedamaian, tidurnya hanya bisa lelap
ketika dia menyelesaikan persetubuhan dengan ganja, hatinya hanya bisa tenang
ketika anti depresan membungkam otaknya untuk diam. Dia sempurna sebagai
manusia dengan sisa-sisa jiwa yang remuk.
Sudahkah aku sebutkan namanya nak?nama sang penggoda.
Namanya Rudra, dan seperti arti namanya, Rudra memang selalu menangis, tangisan
yang dipendam dalam teduh matanya. Tangisan yang muncrat kemana-kemana lewat
keheningan dan keterasingan. Rudra membenci dunia, dunia membuatnya sesak,
dunia terlalu penuh dengan manusia yang membuatnya kehilangan kemanusiaan.
Rudra yang cengeng, Rudra yang membuat Ibumu kembali menikmati peran lain
sebagai perempuan. Rudra yang membuat Ibu ingin mencurinya dari Ibu kandungnya.
Kejahatan nak bukan hanya membunuh...kejahatan adalah keinginan untuk memiliki
hak manusia lain. Dan Ibu memiliki niat jahat—semata-mata karena tergoda. Ibu
ingin mencurinya nak, menaruhnya di hangat dada ini, membiarkannya mengambil
seluruh kehangatan dan kembali menjadi bahagia.
Sayangnya Ibu
tak sampai hati.
Namun Ibumu tergoda, tergoda puing-puing
kemanusiaannya, puing-puing yang tersisa dalam senyumnya. Ah iya...Ibu tahu,
ini kelemahan Ibu sebagai perempuan, Ibu tidak pernah mampu menolak seyuman,
terutama jika senyum itu menawan dan penuh ketulusan. Ibu hanya perempuan biasa
yang luluh lantak di hadapan senyuman. Tapi senyum pria ini memiliki sisi
kemanusiaan. Suatu hari ada serangga di rumah Ibu, serangga kecil yang mampir
lewat jendela, ibu melihatnya sebagai hama yang sudah sejatinya musnah, Rudra
melihatnya sebagai serangga—yang juga memiliki hak hidup seperti kita, Rudra
lepaskan serangga itu lewat jalan masuknya sambil membisikan kalimat perpisahan
dan salam damai. Dan pada detik yang sama, senyum menawan itu memperlihatkan
sisi kemanusiaan. Detik yang sama yang membuat benteng pertahanan Ibu jebol,
benteng yang memang sudah keropos dan perlu direnovasi ini hancur bukan karena
serangan rudal; kehancuran sederhana yang membuat Ibu membuka pintu atas dasar
ketulusan.
Sayangnya Ibu
tak sampai hati.
Di hari lainnya ketika Rudra datang, dengan bara di
matanya, dengan airmata yang tertahan di lidahnya, Rudra terlihat kokoh dengan rajaman
di tubuhnya. Rudra rebah dihadapanku, berteriak namun bungkam, bercerita dalam
senyap. Rudra hancur, dan Ibu haru. Ibu membenci pria lemah, alasan itu yang
membuat Ibu pergi dari Ayahmu, tapi dengan Rudra, Ibu melihat manusia yang
bersusah payah menggapai jalan kemanusiaannya, meski sisa kemanusiaan yang Rudra
punya hanya dua puluh persen, Rudra berusaha tetap menjadi manusia. Lalu hati
Ibumu bergetar, hanya sejengkal lagi maka Ibu akan jatuh cinta—dengan jenis
laki-laki yang selama ini Ibu wanti-wanti untuk tidak pernah kamu lakoni.
Mulanya ini hanya sejenis godaan yang dengan mudah dapat Ibu lewatkan, kini
godaan itu menjelma perasaan. Sejengkal lagi dan Ibumu akan jatuh dalam
kubangan yang sama.
Sayangnya Ibu
tak sampai hati.
Rudra tidak memerlukan perempuan yang jatuh cinta,
jika Ibu sebegitu keji untuk memanjakan perasaan ini, Ibu hanya akan berakhir
seperti Amba yang menghiba pada Bisma—Ibu tidak sampai hati membuatnya menarik
busur untuk menghujam mati hati ini. Rudra memerlukan sosok Tara yang keibuan,
yang tidak rela melihat Siwa mati keracunan. Tapi saat ini kemarahan Ibu
seperti Kali, Ibu marah dengan kebengisan jenisnya yang tanpa ampun, Ibu muak
dengan mereka yang bisa mencampur kemanusiaan dengan serendah-rendahnya
kelakuan binatang, terutama Ibu muak karena sebagian laki-laki bahkan tidak
mampu menjadi laki-laki. Dunia ini hampir hancur karena peranan ganda
perempuan, dan kebusukan laki-laki menjadi pongah. Kemarahan Ibumu nak, seperti
juga kemarahan perempuan yang hatinya hancur dan harga dirinya runtuh. Kemudian
Rudra datang, di tengah kemarahan dan kesedihan, datang sebagai manusia rubuh
yang menjelma bayi lucu. Ibu tergoda untuk menjadi tabib yang memberinya penawar
racun. Kemarahan Ibu lenyap seketika, kepolosannya membuat Ibu bersimpuh.
Sayangnya Ibu
tak sampai hati.
Jika Rudra adalah Siwa, maka Rudra menelan racun
untuk umat manusia bukan untuk dirinya. Jika Ibu adalah Tara, maka Ibu
menyusuinya karena tidak rela dunia kehilangan Mahadewa bukan semata-mata untuk
memilikinya—memenangkan hatinya. Jika Ibu memandangnya sebagai manusia, maka
Ibu tidak akan sampai hati menawan Rudra dalam jubah pasangan, atau pria yang
butuh perlindungan, atau teman yang membutuhkan pertolongan. Rudra adalah
Rudra. Rudra yang hancur lebur karena tidak sanggup mengahadapi dunia yang
tidak lagi ideal. Rudra yang luluh lantak karena benci keramaian. Rudra yang
membuat dirinya menderita untuk mencapai kemenangan. Lekas saja Ibu singkirkan
kekuatan super perempuan untuk menjadi pahlawan. Ibu kembali menjadi perempuan
yang ringsek digoda senyuman. Terjerat antara hasrat untuk memiliki dan
keinginan untuk melindungi. Bagaimanapun kuatnya kami lantang menampik godaan,
perempuan adalah makhluk halus yang hatinya mudah lumat.
Sayangnya Ibu
tak sampai hati.
Ibu tidak tega membuat hati yang seharusnya kamu
lihat perkasa, menjadi bubur tanpa rasa—hambar. Ibu tidak ingin melihat kamu
tumbuh dan melihat perempuan seperti daun gugur yang warnanya tidak lagi cerah.
Kelak ketika kamu mampu melihat kami secara keseluruhan, kamu akan melihat kami
dalam berbagai jenis yang menakjubkan. Ada perempuan yang mati-matian membuat
hatinya beku dan membatu, ada perempuan yang pasrah merelakan hatinya diguncang
godaan, ada perempuan yang seperti Ibumu—yang bertekad menantang badai namun
ribuan kali rebah dalam pelukan. Mana yang akan kamu pilih suatu saat nanti,
perempuan kuat yang hatinya beku, perempuan lembut yang hatinya rapuh, atau
perempuan getir yang berjuang untuk menjadi pemberani?itu pilihanmu nak.
Sementara bagi Ibu, Ibu memilih untuk meninggalkan Rudra. Rudra dan Ibu, sebagaimana nasib godaan yang
selalu ada dalam hidup manusia, ia datang dan pergi. Periode godaan bergantung
pada kuatnya sang penggoda dan ketahanan diri si tergoda. Jika sang penggoda
memang memiliki intensi yang tekun maka ketahanan diri si tergoda yang menjadi
kunci atas durasi godaan. Sebaliknya jika relasi kekuatan antara penggoda dan
tergoda terlalu lemah—maka godaan itu akan berubah menjadi debu. Debu yang
hanya mampir sebentar lalu hilang setelah selesai dibersihkan.
Untuk membersihkan godaan Ibu rela tidak mencecap
manisnya cinta dan panasnya hasrat. Suatu saat kamu akan merasakan nikmatnya
tertawan dalam sebuah penjara yang berisikan seluruh keinginan terpendam dengan
teman satu sel paling seksi yang pernah kamu lihat. Tapi nak...penjara tetaplah
penjara, penjara membuat hidupmu ciut, pikiranmu shut down, dan hatimu bolong-bolong. Jika kamu memanjakan dirimu
sebagai penghuni penjara, maka ancaman hukuman repetisi akan menanti—dan percayalah
pada Ibumu si perempuan getir ini, kegetiran yang kini bersarang dalam tubuh
Ibu adalah hasil dari repetisi.
Ibu tidak sampai hati membuat hatimu penuh
daki; kumpulan debu repetisi yang membuat kemanusiaanmu kotor dan tidak lagi
suci.
Dalam pertemuan terakhir kami, ia menyisipkan
kalimat perpisahan:
“Do not throw
your pearls to pigs. If you do, they may trample them under their feet, and
turn and tear you to pieces.”
Rudra memang manusia dan Ibu mencintainya
nak...sayangnya Ibu tidak sampai hati melihat Ibumu dikalahkan hasrat dan
memasukannya kembali dalam penjara.
*25-12-2015
Happy Birthday, J...and jingle every single way.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar