Minggu, 25 Desember 2016

SAYANG [pt.2]



Ibumu tergoda, tapi sang penggoda bukan setan berupa manusia atau malaikat yang baru saja ganti profesi sebagai iblis; dia manusia biasa. Berhati sepenuhnya seperti manusia, berjalan selayaknya makhluk berintelegensi, makan sehari tiga kali—sayangnya dia bertindak seperti malaikat yang sedang galau-galaunya. Makanannya hanya bisa dia telan ketika reaksi kimia sudah menutaskan tugasnya untuk memberi kedamaian, tidurnya hanya bisa lelap ketika dia menyelesaikan persetubuhan dengan ganja, hatinya hanya bisa tenang ketika anti depresan membungkam otaknya untuk diam. Dia sempurna sebagai manusia dengan sisa-sisa jiwa yang remuk.
Sudahkah aku sebutkan namanya nak?nama sang penggoda. Namanya Rudra, dan seperti arti namanya, Rudra memang selalu menangis, tangisan yang dipendam dalam teduh matanya. Tangisan yang muncrat kemana-kemana lewat keheningan dan keterasingan. Rudra membenci dunia, dunia membuatnya sesak, dunia terlalu penuh dengan manusia yang membuatnya kehilangan kemanusiaan. Rudra yang cengeng, Rudra yang membuat Ibumu kembali menikmati peran lain sebagai perempuan. Rudra yang membuat Ibu ingin mencurinya dari Ibu kandungnya. Kejahatan nak bukan hanya membunuh...kejahatan adalah keinginan untuk memiliki hak manusia lain. Dan Ibu memiliki niat jahat—semata-mata karena tergoda. Ibu ingin mencurinya nak, menaruhnya di hangat dada ini, membiarkannya mengambil seluruh kehangatan dan kembali menjadi bahagia.

Sayangnya Ibu tak sampai hati.
Namun Ibumu tergoda, tergoda puing-puing kemanusiaannya, puing-puing yang tersisa dalam senyumnya. Ah iya...Ibu tahu, ini kelemahan Ibu sebagai perempuan, Ibu tidak pernah mampu menolak seyuman, terutama jika senyum itu menawan dan penuh ketulusan. Ibu hanya perempuan biasa yang luluh lantak di hadapan senyuman. Tapi senyum pria ini memiliki sisi kemanusiaan. Suatu hari ada serangga di rumah Ibu, serangga kecil yang mampir lewat jendela, ibu melihatnya sebagai hama yang sudah sejatinya musnah, Rudra melihatnya sebagai serangga—yang juga memiliki hak hidup seperti kita, Rudra lepaskan serangga itu lewat jalan masuknya sambil membisikan kalimat perpisahan dan salam damai. Dan pada detik yang sama, senyum menawan itu memperlihatkan sisi kemanusiaan. Detik yang sama yang membuat benteng pertahanan Ibu jebol, benteng yang memang sudah keropos dan perlu direnovasi ini hancur bukan karena serangan rudal; kehancuran sederhana yang membuat Ibu membuka pintu atas dasar ketulusan.

Sayangnya Ibu tak sampai hati.
Di hari lainnya ketika Rudra datang, dengan bara di matanya, dengan airmata yang tertahan di lidahnya, Rudra terlihat kokoh dengan rajaman di tubuhnya. Rudra rebah dihadapanku, berteriak namun bungkam, bercerita dalam senyap. Rudra hancur, dan Ibu haru. Ibu membenci pria lemah, alasan itu yang membuat Ibu pergi dari Ayahmu, tapi dengan Rudra, Ibu melihat manusia yang bersusah payah menggapai jalan kemanusiaannya, meski sisa kemanusiaan yang Rudra punya hanya dua puluh persen, Rudra berusaha tetap menjadi manusia. Lalu hati Ibumu bergetar, hanya sejengkal lagi maka Ibu akan jatuh cinta—dengan jenis laki-laki yang selama ini Ibu wanti-wanti untuk tidak pernah kamu lakoni. Mulanya ini hanya sejenis godaan yang dengan mudah dapat Ibu lewatkan, kini godaan itu menjelma perasaan. Sejengkal lagi dan Ibumu akan jatuh dalam kubangan yang sama.

Sayangnya Ibu tak sampai hati.
Rudra tidak memerlukan perempuan yang jatuh cinta, jika Ibu sebegitu keji untuk memanjakan perasaan ini, Ibu hanya akan berakhir seperti Amba yang menghiba pada Bisma—Ibu tidak sampai hati membuatnya menarik busur untuk menghujam mati hati ini. Rudra memerlukan sosok Tara yang keibuan, yang tidak rela melihat Siwa mati keracunan. Tapi saat ini kemarahan Ibu seperti Kali, Ibu marah dengan kebengisan jenisnya yang tanpa ampun, Ibu muak dengan mereka yang bisa mencampur kemanusiaan dengan serendah-rendahnya kelakuan binatang, terutama Ibu muak karena sebagian laki-laki bahkan tidak mampu menjadi laki-laki. Dunia ini hampir hancur karena peranan ganda perempuan, dan kebusukan laki-laki menjadi pongah. Kemarahan Ibumu nak, seperti juga kemarahan perempuan yang hatinya hancur dan harga dirinya runtuh. Kemudian Rudra datang, di tengah kemarahan dan kesedihan, datang sebagai manusia rubuh yang menjelma bayi lucu. Ibu tergoda untuk menjadi tabib yang memberinya penawar racun. Kemarahan Ibu lenyap seketika, kepolosannya membuat Ibu bersimpuh.

Sayangnya Ibu tak sampai hati.
Jika Rudra adalah Siwa, maka Rudra menelan racun untuk umat manusia bukan untuk dirinya. Jika Ibu adalah Tara, maka Ibu menyusuinya karena tidak rela dunia kehilangan Mahadewa bukan semata-mata untuk memilikinya—memenangkan hatinya. Jika Ibu memandangnya sebagai manusia, maka Ibu tidak akan sampai hati menawan Rudra dalam jubah pasangan, atau pria yang butuh perlindungan, atau teman yang membutuhkan pertolongan. Rudra adalah Rudra. Rudra yang hancur lebur karena tidak sanggup mengahadapi dunia yang tidak lagi ideal. Rudra yang luluh lantak karena benci keramaian. Rudra yang membuat dirinya menderita untuk mencapai kemenangan. Lekas saja Ibu singkirkan kekuatan super perempuan untuk menjadi pahlawan. Ibu kembali menjadi perempuan yang ringsek digoda senyuman. Terjerat antara hasrat untuk memiliki dan keinginan untuk melindungi. Bagaimanapun kuatnya kami lantang menampik godaan, perempuan adalah makhluk halus yang hatinya mudah lumat.

Sayangnya Ibu tak sampai hati.
Ibu tidak tega membuat hati yang seharusnya kamu lihat perkasa, menjadi bubur tanpa rasa—hambar. Ibu tidak ingin melihat kamu tumbuh dan melihat perempuan seperti daun gugur yang warnanya tidak lagi cerah. Kelak ketika kamu mampu melihat kami secara keseluruhan, kamu akan melihat kami dalam berbagai jenis yang menakjubkan. Ada perempuan yang mati-matian membuat hatinya beku dan membatu, ada perempuan yang pasrah merelakan hatinya diguncang godaan, ada perempuan yang seperti Ibumu—yang bertekad menantang badai namun ribuan kali rebah dalam pelukan. Mana yang akan kamu pilih suatu saat nanti, perempuan kuat yang hatinya beku, perempuan lembut yang hatinya rapuh, atau perempuan getir yang berjuang untuk menjadi pemberani?itu pilihanmu nak. Sementara bagi Ibu, Ibu memilih untuk meninggalkan Rudra.  Rudra dan Ibu, sebagaimana nasib godaan yang selalu ada dalam hidup manusia, ia datang dan pergi. Periode godaan bergantung pada kuatnya sang penggoda dan ketahanan diri si tergoda. Jika sang penggoda memang memiliki intensi yang tekun maka ketahanan diri si tergoda yang menjadi kunci atas durasi godaan. Sebaliknya jika relasi kekuatan antara penggoda dan tergoda terlalu lemah—maka godaan itu akan berubah menjadi debu. Debu yang hanya mampir sebentar lalu hilang setelah selesai dibersihkan.
Untuk membersihkan godaan Ibu rela tidak mencecap manisnya cinta dan panasnya hasrat. Suatu saat kamu akan merasakan nikmatnya tertawan dalam sebuah penjara yang berisikan seluruh keinginan terpendam dengan teman satu sel paling seksi yang pernah kamu lihat. Tapi nak...penjara tetaplah penjara, penjara membuat hidupmu ciut, pikiranmu shut down, dan hatimu bolong-bolong. Jika kamu memanjakan dirimu sebagai penghuni penjara, maka ancaman hukuman repetisi akan menanti—dan percayalah pada Ibumu si perempuan getir ini, kegetiran yang kini bersarang dalam tubuh Ibu adalah hasil dari repetisi.

Ibu tidak sampai hati membuat hatimu penuh daki; kumpulan debu repetisi yang membuat kemanusiaanmu kotor dan tidak lagi suci.

Dalam pertemuan terakhir kami, ia menyisipkan kalimat perpisahan:
“Do not throw your pearls to pigs. If you do, they may trample them under their feet, and turn and tear you to pieces.”

Rudra memang manusia dan Ibu mencintainya nak...sayangnya Ibu tidak sampai hati melihat Ibumu dikalahkan hasrat dan memasukannya kembali dalam penjara.



*25-12-2015
Happy Birthday, J...and jingle every single way.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar